Vanili NTB Tembus AS, Kemiri Ekspor ke Jepang

Views: 9,531

Media Analis Indonesia, Mataram, NTB- Komoditas unggulan Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memperluas jejaknya di pasar global. Vanili organik NTB diekspor ke Amerika Serikat, sementara kemiri NTB menembus pasar Jepang. Kedua komoditas tersebut dilepas bersamaan dengan peluncuran program penguatan komoditas desa yang dirancang untuk membangun rantai nilai kemiri dari hulu hingga hilir.

Langkah tersebut menjadi bagian dari Joint Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan Tahun 2026 dengan tema Pemberdayaan Komoditas Desa Devisa Kemiri NTB. Program tersebut diluncurkan di halaman Kantor Gubernur NTB, Kamis (24/9/2026).

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, pengembangan komoditas berorientasi ekspor merupakan bagian dari strategi diversifikasi ekonomi NTB. Menurutnya, NTB perlu memperluas sumber pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan sektor pertanian dan agroindustri yang memiliki keterkaitan langsung dengan perekonomian masyarakat.

“Pemilihan komoditas dari NTB untuk didorong masuk ke pasar global dan pasar ekspor sangat sejalan dengan strategi kami di NTB saat ini. Kami sedang dalam proses melakukan diversifikasi ekonomi,” ujar Miq Iqbal.

Menurutnya, ketergantungan terhadap sektor pertambangan yang pertumbuhannya cenderung fluktuatif membuat diversifikasi ekonomi menjadi kebutuhan. Sektor pertanian, pariwisata, dan agroindustri dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan karena mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih luas di tengah masyarakat.

NTB memiliki beragam komoditas yang berpotensi dikembangkan untuk pasar global, antara lain kemiri, vanili, kakao, dan kopi. Tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan komoditas tersebut mampu memenuhi standar pasar, memiliki nilai tambah, serta dapat dipasarkan secara berkelanjutan.

Khusus kemiri, Gubernur melihat peluang peningkatan nilai tambah masih terbuka lebar. Produk kemiri tidak lagi diarahkan hanya sebagai bahan baku, tetapi dikembangkan menjadi berbagai produk turunan dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Harapan kita, program ini bukan menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir. Ini baru kick-off. Setelah ini mari kita dalami bersama. Kami di NTB siap menjadi pilot project,” tegasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Penerimaan Negara Kementerian Keuangan Dwi Teguh Wibowo mengatakan, pengembangan komoditas daerah merupakan bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, daerah memiliki potensi besar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi apabila didukung peningkatan produktivitas, investasi, industrialisasi, dan hilirisasi.

“Daerah adalah mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Pemerintah pusat berperan sebagai enabler, yang memastikan mesin pertumbuhan di daerah dapat bergerak lebih cepat dan bekerja lebih efisien,” jelasnya.

Karena itu, Joint Program TJSL SMV Kementerian Keuangan tidak dirancang sekadar sebagai bantuan kepada petani. Program tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem kemiri secara utuh, mulai dari peningkatan kapasitas petani, penguatan produksi, modernisasi pascapanen, penyediaan infrastruktur pendukung, pemanfaatan energi surya, hingga pengembangan produk turunan dan pembukaan akses ke pasar global.

“Jadi, yang dibangun bukan sekadar komoditasnya, tetapi rantai nilai dari hulu hingga hilir,” ujar Dwi.

Bagi NTB, keberhasilan pengembangan komoditas pada akhirnya tidak cukup diukur dari seberapa sering produk diperkenalkan melalui pameran. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan produk daerah menembus pasar secara berkelanjutan.

Miq Iqbal menegaskan, pameran internasional hanyalah sarana untuk memperkenalkan produk. Sasaran akhirnya adalah ekspor dan kemampuan pelaku usaha daerah membangun pasar secara mandiri.

“Target kita bukan pameran. Pameran adalah target antara. Tujuan akhirnya adalah ekspor,” tegasnya.

Ekspor vanili organik ke Amerika Serikat dan kemiri ke Jepang pun menjadi lebih dari sekadar transaksi perdagangan. Langkah tersebut menunjukkan adanya peluang bagi komoditas NTB untuk masuk ke rantai pasar global sekaligus menjadi pijakan dalam memperkuat hilirisasi berbagai komoditas lainnya.

Dari desa menuju pasar dunia, arah yang dibangun NTB bukan sekadar meningkatkan volume penjualan komoditas, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang lebih besar di daerah.

Kemiri dan vanili menjadi contoh bahwa ketika produksi, hilirisasi, standar mutu, dan akses pasar dibangun dalam satu ekosistem, komoditas lokal memiliki peluang untuk berkembang menjadi kekuatan ekspor yang memberikan nilai tambah bagi petani, pelaku usaha, dan perekonomian NTB.

(Yyt)

Views: 9,531

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *