Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil. (Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera)
Integrasi atau keterhubungan secara eksistensi dan nilai guna bagi bangsa Indonesia antar fisik dan mental baik internal maupun terhadap lingkungan dan alam adalah pembangunan yang sesungguhnya. Tidak semata terhadap fisik, atau mental seseorang sebagai manusia, pembangunan sesungguhnya tersebut namun juga bersifat terintegrasi satu sama lain.
Fisik dan mental adalah dua poin utama dalam pembangunan yang masing-masing-masing memiliki unsur yang memiliki spesifikasinya. Pembangunan fisik adalah perwujudan dari konsep atau pemahaman berupa bangunan-bangunan fisik seperti transportasi dan lain sebagqinya. Adapun mental, dalam dunia ilmiah dikenal istilah humaniora atau yang berhubungan dengan unsur kemanusiaan manusia, seperti etika dan estetika bernilai keindahan.
Maka kualitas tidak hanya meliputi pembangunan fisik yang dinilai baik atau indah, namun juga mental. Kesempatan baik lain akan terbuka, seperti kesempatan atau lapangan kerja dan lain-lain.
Pembangunan kemanusiaan yang beriring dengan pembangunan fisik seperti infrastruktur, transportasi dan lain sebagainya secara terencana dapat berpengaruh pada kemajuan suatu bangsa. Jika pembangunan fisik dapat ditempuh melalui perancanaan pembangunan secara merata seperti program percepatan pembangunan daerah tertentu di Indonesia, maka pembangunan mental melalui agen-agen akan berpengaruh pada pembangunan kualitas masyarakat yang baik. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjadi agen tersebut.
Integrasi fisik dan mental dalam program pembangunan Indonesia perlu digagas, bahkan kini bersifat urgen. Lantaran kondisi mental manusia dituntut untuk mampu mengiringi pembanguan fisik, maka keduanya perlu penyesuaian satu sama lain.
Seperti perpindahan Ibu Kota Negara dari sebelumnya di DKI Jakarta kini IKN (Ibu Kota Nusantara). Masa transisi, penyesuaian kondisi dan lingkungan dibutuhkan agar mental manusianya senantiasa terjaga. Sebab keberadaan Ibu Kota sebagai pusat pemerintahan suatu negara mutlak dibutuhkan, maka mental yang terbangun secara terintegrasi dengannya adalah satu kesatuan sebagai kebutuhan suatu pembangunan.
Unsur lain yang perlu diperhatikan dalam integrasi pembangunan antara fisik dan mental adalah spiritual. Spiritual memang bukan segala-galanya penentu, namun tanpa spiritualitas yang sehat tentu tidak akan ada pembangunan yang mengarah kepada kebaikan baik manusia maupun alam semesta secara keseluruhan. Maka unsur ini tidak bisa ditinggalkan dalam rangka pembangunan yang terintegrasi tersebut dengan menciptakan manusia berspiritual untuk membangun masyarakat yang sehat mental (spiritual).
Belajar dari Pengalaman
Siapa yang tidak kenal Amerika Serikat dengan segudang klaim kemajuan dan adidaya lantaran pembangunan fisik yang tinggi. Ternyata negara yang memiliki kota-kota besar kelas dunia ini menyimpan sejumlah persoalan seiring pembangunan gedung-gedung dan canggihnya teknologi yang dimiliki khususnya dalam pembangunan fisik negaranya.
Fenomena gelandangan di sejumlah sudut kota Los Anggeles dan Las Vegas menjadi bagian tidak terpisahkan. Bahkan kota yang disebut kiblatnya dunia hiburan, pendidikan, dan pesatnya pertumbuhan ekonominya, terdapat orang-orang yang menggelendang di jalanan. Tidak sampai di situ, suatu fenomena yang identik dengan negara yang beribukota Washington DC, sebab tidak terdapat di belahan dunia mana pun adalah kehidupan masyarakat yang meninggali terowongan bawah tanah yang diperuntukkan sebagai sanitasi air justru dihuni sekolompok orang dengan jumlah besar. Kemegahan bangunan kota-kota tersebut kontras dengan fenomena kemiskinan berupa tuna wisma yang menjalani kehidupan sehari di jalan dan terowongan sekaligus sebagai tempat tinggal.
Contoh lain dari dampak pembangunan dengan kualitas perencanaan yang (maaf) rendahan adalah negara yang paling banyak mendapat pengaruh dari Barat di kawasan Asia Tenggara; Filipina! Suatu fenomena khas terdapat di negara ini tepatnya di ibu kota negaranya Manila. Bernama “Suoth Manilla Funeral”, terdapat orang-orang yang hidup di tengah-tengah kemegahan bangunan kota mendiami pemakaman umum tersebut sebagai tempat tinggal, hidup dan berkeluarga di sana.
Kehidupan di sana bahkan sebagaimana dalam kehidupan masyarakat normal pada umumnya, mereka makan, minum, mandi serta terdapat warung kelontong dan jajanan (makanan) di sana. Bukan tanpa alasan atau berdasar alasan klise, faktor pembangunan ekonomi di negara tersebut menjadi penyebab utama.
Sudah menjadi keniscayaan pembangunan yang baik artinya berkemajuan dan berkemanusiaan diambil untuk tujuan kebaikan bersama pula. Jika tidak, fenomena yang terjadi di negara-negara yang terkategori maju dunia dan nomor satu dalam pembangunan dapat menjadi ancaman dari pembangunan dengan perencanaan rendah-an. Komunitas atau suatu kelompok manusia dalam jumlah besar yang luput dapat menjadi masalah dalam pembangunan nasional.
Suatu fenomena yang dapat diambil ibroh dari pembangunan dengan kekurangan pada perencanaan adalah gagalnya eksekusi di lapangan meski kenyataan sesungguhnya bersifat urgen atau sangat membutuhkan. Contoh; di wilayah pedalaman Sumatera Selatan, yaitu OKI, tepatnya di Kecamatan Tanjung Lubuk sempat dibangun jalur atau rute perjalanan transportasi BUMD DAMRI untuk melayani kebutuhan sarana-prasarana berupa moda.
Sebagaimana dilansir dalam sebuah artikel pada portal Birokrat Menulis, medan perjalanan sedemikian dengan moda dan kondisi sedemikian juga khas daerah pelosok, menunjukkan kondisi urgen agar moda tidak semata mengandalkan mobil plat hitam milik masyarakat. Kenyataannya, eksistensi rute Bus DAMRI di sana tidak bertahan lama. Kini tidak ada lagi pelayanan transportasi umum, yang ada hanya mobil pribadi yang difungsikan menarik penumpang, sedikit mikrolet kapsul, dan ojek.
Persoalan teknis pembangunan juga terjadi pada desain proyek gerbang pariwisata Kendari-Toronipa dengan perkiraan anggaran sebesar Rp. 32 miliar. Dalam kabar yang viral beberapa hari terakhir semenjak Jum’at (13/9), terkait terjadi kerusakan terhadap bangunan yang baru pada bagian-bagian tertentu. Terlepas berbagai dugaan yang terjadi di belakangnya, terbukti bahwa pembangunan dengan perencanaan yang tepat adalah bersifat urgen agar tidak bersifat sia-sia dan justru cenderung bersifat pe-“mubadz-dzir”-an.
Tidak hanya kemegahan yang menjadi orientasi utama, namun juga memanusiakan masyarakatnya. Maka komitmen berbagai pihak termasuk para pemangku kebijaksanaan seperti pemimpin pemerintah beserta jajaran mutlak dibutuhkan dalam perencanaan pembangunan. Semangat akan kebaikan bersama yang sesungguhnya di antaranya melalui para pemuda yang bertalenta, memiliki jiwa kepemimpinan dan kesungguhan dalam pembangunan nasional yang berorientasi integratif fisik dan mental.
Momentum rekrutmen CPNS adalah kesempatan tidak hanya evaluasi internal namun menarik tenaga-tenaga yang memiliki potensi dan komitmen dalam pembangunan nasional. Kalangan terdidik, putera daerah terbaik serta berkualifikasi dalam pembangunan syarat utama dari usaha sungguh dalam perencanaan pembangunan fisik dan mental untuk Indonesia lebih baik.
