Media Analis Indonesia.Mataram,NTB – Peluang tebu menjadi komuditas andalan di Nusa Tenggara Barat (NTB) cukup besar. Terlebih lagi ada beberapa titik yang memang menjadi salah satu penghasil tebu terbesar.
Kabupaten Dompu, Bima dan Sumbawa misalnya, memiliki potensi pengembangan tebu yang luar biasa.
Melihat peluang ini Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mulai merancang strategi pengembangan tebu di NTB sebagai salah satu industri yang menjanjikan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB H Iswandi yang menyatakan sudah tepat jika komoditas ini menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.
Dalam wawancara beberapa waktu lalu, Iswandi menjelaskan, selain merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia untuk masyarakat, komoditas tebu memang cocok dikembangkan di Kabupaten Dompu dan sekitarnya.
Faktor lainnya adalah di kabupaten ini sudah ada pabrik gula milik PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang memiliki kapasitas pengolahan tebu mencapai 5 ton tebu sehari, sehingga pasar komoditas ini sudah pasti diserap.
Di sisi lain, tebu juga dapat menekan penanaman komoditas jagung yang masif di pulau Sumbawa yang dikhawatirkan justru akan menyebabkan banjir pasokan di saat panen raya, yang kemudian membuat harga turun sangat tajam
Walaupun tebu juga merupakan tanaman semusim seperti halnya jagung, tetapi panen tebu tidak seperti jagung.
Panen tebu dilakukan dengan memotong pangkalnya dan dapat dilakukan sampai lima atau kali pangkas untuk sekali tanam, sehinga pengolohan tanah yang berpotensi menyebabkan banjir lebih rendah.
Iswandi menyebut, Kabupaten Dompu juga merupakan salah satu sentra komoditas tebu yang dikembangkan oleh pemerintah pusat dan kini menyandang status sebagai Kawasan Tebu Nasional.
Pengembangan komoditas tebu sudah dilakukan sejak tahun 2014. Dana APBN Tahun 2014 dan 2015 menganggarkan penanaman tebu seluas 4.087 hektare (Ha), dilanjutkan tahun 2018 dan 2019 seluas 988,75 Ha dan sampai dengan tahun 2023 dilakukan rawat raton seluas 1.950 Ha.
“Pembangunan kebun benih untuk komoditas tebu juga sudah dilakukan pemerintah,” katanya.
Berdasarkan data Bappeda NTB, pengembangan tebu terpusat di Kabupaten Dompu dan Bima. Rinciannya, di Dompu dengan potensi tanam mencapai 10.873 hektare, baru 3.350 hektare yang digarap sebagai lokasi tanam dan tersebar di tiga kecamatan yaitu Pekat, Kempo, Manggelewa. Masih ada 7.523 hektare lebih yang belum dioptimalkan.
Sementara di Kabupaten Bima, dengan potensi tanam 1.743 Ha yang ada di Kecamatan Sanggar dan Tambora, luas tanamnya baru sekitar 102 hektare. Masih ada 1.641 Ha yang belum digarap.
Sejauh ini, diakuinya, Bappeda NTB belum melakukan kajian mengenai pengembangan tebu di Dompu dan sekitarnya.
Terkait petani Dompu yang lebih memilih menanam jagung ketimbang tebu salah satunya dipicu karena keuntungan yang diperoleh. Artinya komoditas jagung dinilai masih lebih menguntungkan untuk petani.
Namun menurut beberapa petani tebu yang diwawancarai Koran ini, komoditas tebu justru lebih menguntungkan, tidak saja dari sisi nominal yang didapat tapi juga dari sisi kemudahan perawatan dan kepastian pasar. Sehingga, diperlukan dorongan lebih lanjut dari otoritas terkait untuk menyosialisasikan kemanfaat komoditas tebu bagi petani.
Selain itu, menurut petani, pemerintah perlu mendorong dengan berbagai upaya agar potensi lahan tebu sebesar 10.873 hektare bisa digarap secara maksimal, karena lahan yang baru tergarap selama ini masih di bawah 50 persen. Padahal, untuk mencapai misi Dompu menjadi produksi gula, mau tak semua potensi lahan tebu harus dioptimalisasi, pasokan ke perusahan bisa terpenuhi.
Sementara itu, pelayanan dari pihak pabrik untuk petani juga perlu diperhatikan. Kalau panen jagung petani bisa langsung masuk ke gudang-gudang investor tanpa kendala sehingga biaya pengangkutan bisa ditekan, maka pabrik tebu juga seharusnya memberikan kemudahan yang sama sehingga petani tidak terlalu dibebani oleh biaya tambahan yang akan mempengaruhi pendapatan petani. Waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman tebu dari lokasi petani sampai pabrik maksimal 6 jam atau jarak tempuhnya sekitar 343 kilometer pulang-pergi.
“Jadi kami menyimpulkan, memasukkan tebu sebagai komoditas unggulan yang penganggaran untuk sarana dan prasarananya masuk dalam dokumen perencanaan baik kabupaten/kota dan provinsi perlu dilakukan,” ujarnya.
Iswandi membeberkan, masalah lahan Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan yang dilewati ternak sapi masyarakat sedang dalam proses penyelesaian. Pihak terkait yakni perusahaan PT SMS (Pabrik Gula) dan petani sudah melakukan kesepakatan antara lain membuatkan jalan di lahan HGU perusahaan gula untuk ternak petani supaya bisa mencari makanan dan sumber air.
Selain itu, petani juga meminta daun tebu yang tidak terpakai supaya diolah oleh perusahaan sebagai bahan pakan ternak karena keberadaan HGU perusahaan gula sudah mempersempit tempat ternak mencari makanan.
Mengenai pengembangan tebu yang saat ini juga dilakukan sejumlah petani di Labangka, Kabupaten Sumbawa menurutnya, diperlukan data, kajian
permasalahan dan isu yang membuat
Kabupaten Sumbawa memiliki potensi besar untuk mengembangkan komoditas tebu dengan keberadaan pabrik dan pasar yang jelas.
“Kalau potensi tebu di Labangka memang ada, tentu dengan data yang akurat maka kebijakannya adalah wilayah Labangka sebagai wilayah untuk memenuhi
kebutuhan bahan baku tebu untuk diproduksi menjadi gula,” katanya.
Tentu saja kerja sama kemitraan antara petani tebu dengan pihak ketiga (pabrik gula) menjadi prioritas utama.
Sehingga produk petani tebu dapat dibeli oleh pabrik gula dengan harga yang dapat menguntungkan petani tebu.
(Yyt)
