Media Analis Indonesia.Lombok Tengah, NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) resmi memulai babak baru konektivitas kepulauan. Penandatanganan Nota Kesepahaman pengembangan layanan seaplane, 28 Februari 2026, dilakukan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal bersama Bupati Lombok Tengah H. Lalu Fathul Bahri dan PT Abadi Mega Angkutan; disaksikan langsung Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi.
Kesepakatan ini bukan sekadar membuka rute wisata baru, melainkan merancang arsitektur besar konektivitas udara–air yang terintegrasi di provinsi kepulauan.
Batujai Dipilih Bukan karena Indah, Tapi karena Logis
Lokasi waterbase di Bendungan Batujai diputuskan melalui kalkulasi teknis ketat. Kedekatannya dengan Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menjadi keunggulan utama; integrasi Air Traffic Control (ATC) memungkinkan pengawasan ruang udara berada dalam satu klaster kendali; efisiensi radius navigasi menekan kebutuhan infrastruktur terpisah yang mahal; serta respons darurat lebih cepat karena berada dalam ekosistem bandara internasional.

“Ini bukan proyek simbolik; ini keputusan berbasis aviation logic dan standar keselamatan,” tegas Gubernur Iqbal.
Bagi NTB yang memiliki ratusan pulau kecil di perairan Lombok dan Sumbawa, aksesibilitas selama ini menjadi tantangan. Transportasi laut tetap vital; namun waktu tempuh antarpulau kerap memakan waktu berjam-jam dan sangat bergantung cuaca. Seaplane diproyeksikan memangkas perjalanan menjadi hitungan puluhan menit—sebuah lompatan efisiensi yang signifikan.
Roadmap Bertahap, Utamakan Keselamatan dan Lingkungan
Pengembangan dilakukan terukur; mulai dari penataan waterbase sesuai regulasi Kementerian Perhubungan; sinkronisasi perizinan dan SOP water aerodrome; pembangunan fasilitas berkonsep hijau; hingga uji coba operasional sebelum ekspansi rute.

Koordinasi dengan pengelola bendungan memastikan fungsi utama pengairan tetap terlindungi. Operasional dirancang tidak mengganggu tata kelola air; sekaligus menjaga keselamatan kawasan.
Bidik Wisata Premium, Dampaknya ke UMKM Pesisir
Dari sisi ekonomi, kebijakan ini memperkuat strategi low volume–high value tourism; yakni jumlah wisatawan terkendali dengan kontribusi belanja lebih tinggi. Dampaknya diproyeksikan menjalar ke pemerataan kunjungan pulau kecil; kenaikan okupansi homestay dan eco-resort; pertumbuhan UMKM pesisir; hingga peningkatan PAD sektor pariwisata.
Dalam horizon 5–10 tahun, konektivitas cepat ini membuka peluang investasi resort pulau kecil; memperluas pasar wisata konservasi; serta mempercepat distribusi komoditas perikanan premium bernilai tinggi.
Tak hanya itu; konektivitas udara–air juga berimplikasi lintas sektor—mendukung ekonomi biru; mempermudah akses medis darurat dari pulau terpencil; serta memperkuat jejaring Bali–NTB–NTT dalam arus wisata dan investasi.

Elitis? Ramah Lingkungan? Ini Jawaban Pemprov
Segmen premium memang menjadi sasaran awal; namun manfaat ekonomi disebut akan menyebar melalui lapangan kerja, kemitraan UMKM, dan jasa lokal. Fasilitas dirancang ramah lingkungan dan tunduk pada regulasi keselamatan serta lingkungan; dengan prinsip pertumbuhan dan kelestarian berjalan seiring.
Pemerintah juga menegaskan operasional tidak mengganggu fungsi utama bendungan; seluruh tahapan dilakukan dengan koordinasi lintas instansi dan prinsip transparansi.
Seaplane Batujai bukan akhir; melainkan titik awal reposisi strategis NTB sebagai provinsi kepulauan yang terhubung, modern, dan berdaya saing. Jika konsisten dijalankan; kebijakan ini diyakini membuka akses ke ratusan pulau mengubah batas geografis menjadi kekuatan utama pertumbuhan daerah.
(Yyt)
