NTB Melejit! Surplus Daging–Telur, Hilirisasi Ayam Terintegrasi Siap Serap 1.300 Tenaga Kerja

Media Analis Indonesia.Mataram, NTB – Sub sektor peternakan kian menegaskan posisinya sebagai tulang punggung ekonomi daerah. Bukan hanya penyedia protein hewani; sektor ini juga menjadi sumber penghidupan masyarakat, pencipta lapangan kerja, penopang pertanian berkelanjutan, hingga instrumen efektif pengentasan kemiskinan.

Di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan daya beli masyarakat, permintaan produk peternakan terus menanjak. Dalam lanskap nasional, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tampil sebagai kekuatan baru. Populasi sapi potong NTB berada di peringkat keempat nasional; kerbau peringkat keempat; kuda peringkat ketiga; kambing ketujuh; ayam kampung ke-12; serta itik peringkat ke-13 dari 38 provinsi.

Keunggulan itu ditopang ketersediaan lahan pakan ruminansia seluas 1.692.694 hektare; terdiri atas 353.025 hektare di Pulau Lombok dan 1.339.669 hektare di Pulau Sumbawa. Daya tampung ternak herbivora mencapai 1.585.103 Unit Ternak (UT) atau setara 2.219.144 ekor; dengan potensi pengembangan tambahan 419.640 UT atau 587.496 ekor mayoritas berada di Pulau Sumbawa.

Surplus Daging dan Telur, Produksi Terus Naik

Sepanjang 2025, kinerja produksi peternakan NTB mencatatkan tren positif. Produksi daging ruminansia mencapai 15.366,1 ton; melampaui kebutuhan konsumsi 13.687,8 ton. NTB mencatat surplus 1.678,32 ton; meningkat 5,7 persen dibanding 2024 sebesar 14.537 ton.

Pada sektor unggas, produksi daging ayam menyentuh 57.998,4 ton; melebihi kebutuhan 55.553 ton dengan surplus 1.860,27 ton. Angka ini naik 3,3 persen dibanding 2024 sebesar 56.138,1 ton.

Produksi telur pun meningkat menjadi 57.506,44 ton; naik 1,86 persen dari 2024 sebesar 56.434,86 ton. Kenaikan ini didorong populasi ayam buras yang mencapai 5.303.821 ekor—naik 4 persen; populasi itik 444.410 ekor—naik 4 persen; serta telur puyuh 227,83 ton dari populasi 131.389 ekor—melonjak 14 persen dibanding tahun sebelumnya.

Capaian tersebut memastikan kebutuhan protein hewani masyarakat NTB tetap terjaga; bahkan mencatat surplus di sejumlah komoditas strategis.

Hilirisasi Ayam Terintegrasi, Lompatan Menuju Industri Modern

Memasuki 2026, tantangan penyediaan protein skala besar kian menguat; seiring pertumbuhan ekonomi dan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menjawab kebutuhan itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI bersama Pemprov NTB meluncurkan Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi.

Program ini mengintegrasikan seluruh rantai produksi dalam satu klaster; mulai dari breeding ayam pedaging dan petelur, industri pakan, budidaya, rumah potong unggas, hingga pengolahan produk seperti karkas, sosis, nugget, dan tepung telur.

Setiap klaster diproyeksikan menyerap lebih dari 1.300 tenaga kerja; memperkuat rantai pasok; menekan biaya produksi; serta meningkatkan kesejahteraan peternak. Kabupaten Sumbawa dipilih sebagai lokasi utama; didukung ketersediaan lahan pemerintah yang memadai dan jauh dari permukiman.

Langkah ini menandai pergeseran besar pembangunan peternakan NTB; dari produksi primer menuju industri berbasis nilai tambah.

100 Persen Wilayah Terkendali Penyakit Strategis

Di bidang kesehatan hewan, NTB mencatat 100 persen wilayah terkendali Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di 10 kabupaten/kota sepanjang 2025. Sebanyak 914 kasus—meliputi Anthrax, Septichaemia Epizootica, Surra, Rabies, Avian Influenza, dan PMK—berhasil ditangani.

Penguatan laboratorium melalui pengadaan alat PCR memungkinkan pemeriksaan PMK dilakukan langsung di NTB; tanpa pengiriman sampel ke luar daerah. Dukungan vaksin dan operasional dari APBN turut mempercepat pengendalian penyakit; menjaga kepercayaan pasar dan keamanan lalu lintas ternak.

Tata Niaga Menguat, Distribusi Melonjak 455 Persen

Indikator tata niaga peternakan 2025 mencapai 77,85 persen; melampaui target 75 persen dengan capaian kinerja 103,80 persen. Produk peternakan yang dipasarkan meningkat 9,22 persen dibanding 2024.

Distribusi juga terdongkrak dukungan Tol Laut. Sepanjang 2025, tercatat 17 voyage kapal ternak dengan rute Bima–Tanjung Priok; Bima–Kwandang; Bima–Basirih; dan Bima–Trisakti. Pemanfaatan angkutan khusus ternak melonjak 455,95 persen dibanding 2024; setelah NTB memiliki kapal sendiri tanpa mekanisme deviasi.

Populasi Sapi Naik, Nol Pemotongan Betina Produktif

Sebagai salah satu lumbung sapi nasional, populasi sapi NTB pada 2025 mencapai 1.340.130 ekor; naik 2,44 persen dari 1.308.204 ekor pada 2024. Peningkatan ini didorong inseminasi buatan, transfer embrio, vaksinasi PMK, serta keberhasilan menjaga nol kasus pemotongan betina produktif sepanjang tahun.

Satu tahun terakhir menjadi fase konsolidasi dan akselerasi. Peternakan NTB kini tak lagi sekadar soal populasi ternak; melainkan tentang industri, nilai tambah, lapangan kerja, dan fondasi ketahanan pangan daerah.

(Yyt)