Nyemulak, Titik Awal Sade Bangkit

Views: 7,953

Media Analis Indonesia.Lombok Tengah, NTB  – Kampung Adat Sade, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai menapaki perjalanan pemulihan setelah dilanda kebakaran. Masyarakat bersama Pemerintah Provinsi NTB memulai rekonstruksi rumah adat dan Masjid Sade melalui tradisi Nyemulak, Kamis (3/9/2026).

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal hadir langsung dalam prosesi yang menandai dimulainya pembangunan kembali Kampung Adat Sade di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Prosesi Nyemulak ditandai dengan pemasangan tiang pertama pembangunan rumah adat dan masjid yang sebelumnya terdampak kebakaran.

Bagi masyarakat Sasak Rembitan, Nyemulak bukan sekadar tanda dimulainya pembangunan rumah. Tradisi ini merupakan bagian dari tata cara adat dalam memulai pembangunan yang menempatkan proses membangun sebagai bentuk ikhtiar bersama, penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur, serta doa agar bangunan dan kehidupan yang tumbuh di dalamnya mendapat keselamatan dan keberkahan.

Karena itu, pelaksanaan Nyemulak dalam rekonstruksi Sade memiliki makna yang lebih dalam. Tradisi yang diwariskan masyarakat Sasak Rembitan tersebut menjadi penanda bahwa pembangunan kembali Sade bukan hanya tentang menghidupkan kembali bangunan yang terbakar, tetapi juga menjaga pengetahuan, tata nilai, filosofi, dan identitas budaya yang melekat pada kampung adat tersebut.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa rekonstruksi Sade tidak boleh diperlakukan sebagai pembangunan fisik biasa. Seluruh proses harus mengembalikan karakter Sade sedekat mungkin dengan bentuk dan nilai aslinya, sekaligus memastikan kawasan tersebut aman dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

“Pemasangan tiang pancang pertama atau Nyemulak ini merupakan ikhtiar panjang dalam melakukan rekonstruksi Kampung Adat Sade. Dalam proses pembangunan ini harus tetap sabar,” ujar Miq Iqbal.

Menurutnya, ketelitian dan kesabaran sangat penting karena wisatawan datang ke Sade bukan semata-mata untuk melihat bangunan, melainkan untuk memahami cerita, tradisi, arsitektur, ritual, dan kehidupan masyarakat Sasak yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Proses pembangunan ini tidak boleh terburu-buru. Wisatawan datang ke Sade karena ingin melihat bangunan yang bercerita tentang budaya masyarakat Sasak serta ritual dan kehidupan yang ada di NTB. Karena itu, nilai awal Sade harus dikembalikan,” tegasnya.

Untuk memastikan proses rekonstruksi berjalan terarah, Gubernur meminta agar segera dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Rekonstruksi Sade yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat adat, serta pihak-pihak terkait. Satgas tersebut diharapkan menjadi wadah koordinasi bersama, mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan.

Gubernur juga mendorong pembentukan rekening bersama untuk menampung dan mengelola bantuan dari berbagai pihak. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan seluruh dukungan yang masuk tercatat, dikelola secara transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

“Banyak pihak yang ingin membantu. Karena itu, bantuan yang masuk harus dikumpulkan dan dikelola secara transparan,” katanya.

Di tengah proses rekonstruksi, Miq Iqbal juga meminta agar pembangunan museum semipermanen dipercepat. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi sementara bagi wisatawan sekaligus menjaga agar cerita dan identitas Sade tetap dapat diperkenalkan kepada pengunjung selama proses pembangunan berlangsung.

“Ketika wisatawan datang, mereka tetap bisa melihat dan memahami bentuk serta cerita tentang Sade. Karena proses rekonstruksi dimulai, kawasan ini tentu harus ditata,” ujarnya.

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan pelaksanaan Nyemulak menjadi tanda dimulainya pembangunan kembali rumah adat Sasak dan Masjid Sade yang terdampak kebakaran. Menurutnya, momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan makna tersendiri bagi dimulainya proses tersebut.

“Bulan Maulid Nabi Muhammad ini merupakan waktu yang terbaik, sehingga pembangunan rumah di Kampung Adat Sade ini dimulai hari ini,” kata Pathul.

Pathul mengapresiasi dukungan masyarakat, pemerintah, dan para donatur yang turut membantu proses pemulihan Sade. Ia berharap seluruh pihak terus menjaga semangat kebersamaan hingga seluruh tahapan rekonstruksi selesai.

Koordinator Rekonstruksi Rumah Adat Sade, H. Lalu Muh. Faozal, mengatakan prosesi Nyemulak dilaksanakan berdasarkan hasil musyawarah bersama masyarakat Dusun Sade.

“Hari ini merupakan hari baik yang telah disepakati bersama untuk pemasangan tiang pancang pembangunan Masjid dan Rumah Adat Sade,” ujarnya.

Berdasarkan hasil pendataan pascakebakaran, sebanyak 75 rumah adat, delapan berugak, enam sekenam, satu masjid, dua toilet, dan 69 art shop terdampak dalam peristiwa tersebut. Rekonstruksi akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan perencanaan dan kemampuan sumber daya yang tersedia.

Bagi masyarakat Sade, pembangunan kembali bukan sekadar mengembalikan apa yang telah hilang. Rekonstruksi menjadi kesempatan untuk memastikan warisan budaya tetap hidup, ruang kehidupan masyarakat kembali pulih, dan generasi mendatang masih dapat mengenali Sade sebagai bagian penting dari peradaban Sasak Rembitan.

Nyemulak menjadi titik awal perjalanan tersebut. Sade dibangun kembali bukan sekadar untuk mengembalikan bangunannya, tetapi untuk menghidupkan kembali ruh, nilai, dan warisan Sasak yang membuat Sade tetap menjadi Sade.

(Yyt)

Views: 7,953