GJC Kolaborasi dengan PAUD Taman Embun untuk Lestarikan Budaya Betawi

Media Analis Indonesia, Jakarta – Kehadiran organisasi Gabungan Jawara Cengkareng (GJC) makin dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Organisasi yang konsen pada pelestarian budaya Betawi tersebut, kini mulai berkolaborasi dengan dunia pendidikan.

Lewat kemampuan maen pukulan, GJC yang dikomandoi para tokoh silat Betawi Cengkareng seperti Muhamad alias Baron, Guru Arief, Yanes Jhon, dan Ocid Baros memperkenalkan silat dalam bentuk atraksi Palang Pintu kepada siswa PAUD Taman Embun, Durikosambi, Jakarta Barat, yang sedang melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Ketua GJC Muhamad atau Baron mengatakan, pihaknya siap bekerja sama dengan pihak mana pun dalam upaya melestarikan dan memajukan budaya Betawi seperti Palang Pintu maupun hadrah. Terlebih, pihaknya menaungi 50 sanggar silat dari berbagai jenis dan aliran.

“Kita siap kalau diajak kerja sama, karena kita di sini dalam satu wadah silaturahmi dan persaudaraan sehingga satu sama lain kompak memajukan budaya Betawi,” katanya di Jakarta, Kamis (18/7/2024).

Baron mengatakan, pihaknya juga kerap dilibatkan oleh instansi pemerintah dalam berbagai acara resmi, termasuk menjaga area Jakarta International Marathon (Jakim) baru-baru ini.

“Kita komitmen dengan budaya Betawi, kalau bukan kita yang jaga siapa lagi,” katanya.

Sementara itu, Kepala PAUD Taman Embun, Elis Jazilah mengucapkan, terima kasih atas kehadiran tim GJC dalam kegiatan di lembaganya.

Pihaknya pun berkomitmen ikut mendukung upaya pelestarian budaya Betawi. Dikatakannya, pada kegiatan MPLS hari ke-6 murid dikenalkan ikon Jakarta berupa miniatur Monas tiga dimensi dan ondel-ondel asli yang biasa digunakan untuk pertunjukan. Sedangan di hari ke-7 MPLS murid dikenalkan juga makanan dan minuman khas Betawi, termasuk atraksi Palang Pintu.

Kegiatan ini, kata Elis, merupakan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar. Melalui kegiatan pengenalan Ikon Jakarta diharapkan anak dapat memahami identitas dirinya sebagai warga Jakarta, dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, aturan dan norma yang berlaku serta tumbuh rasa cinta dan bangganya pada budayanya sendiri.

Pada kegiatan MPLS hari ke-7 yaitu kegiatan pengenalan makanan dan minuman tradisional Jakarta, Elis bekerja sama dengan komite sekolah yang membantu menyajikan makanan dan minuman tradisional. Kue yang disajikan seperti cucur, kue pisang, dongkal, kue cincin, putu ayu, dan selendang mayang menggunakan bahan dasar tepung beras berprotein tinggi yang aman bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Minuman bir pletok yang disajikan juga disukai anak-anak dan mengandung bahan alami yang membuat perut dan tenggorokan hangat. Diharapkan anak-anak termotivasi untuk menghindari jajanan yang mengandung pemanis buatan yang berbahaya untuk kesehatan.

Menurutnya, sekolah adalah salah satu lingkungan sosial (miniatur masyarakat) yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, guru dan siswa sebagai warga sekolah. Di lingkungan sekolah anak distimulasi untuk dapat mengenal dan memiliki perilaku positif terhadap identitas dan perannya sebagai bagian dari warga sekolah sehingga dapat menyesuaikan diri dengan aturan dan norma yang berlaku, kemampuan ini merupakan capaian pembelajaran PAUD dalam Kurikukulum Merdeka untuk aspek jati diri.

“Dalam atraksi Palang Pintu terdapat nilai sportivitas, berani dan tangguh. Dalam tradisi Palang Pintu lawan yang sudah jatuh tidak boleh dipukul lagi. Nilai seninya juga tinggi karena sebelum dimulai gerakan silat, diawali dengan adu pantun terlebih dahulu. Rima dalam pantun menstimulasi aspek literasi, kemampuan anak dalam mengikuti rangkaian acara palang pintu dapat menstimulasi kematangan emosi dan sosial ,” ucap Elis. (*)