Media Analis Indonesia, Jakarta – Firmansyah Wahid atau biasa disapa Bang Firman, selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta, sangat mengapresiasi buku Kumpulan Puisi “DOL” karya budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra.
Hal ini Ia ungkapkan usai membuka acara bedah buku tersebut yang berlangsung di Aula Lantai 4 PDS HB Jassin Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat, Pada Jumat (5/7/2024) sore.
Firmansyah mengatakan, buku tersebut turut memperkaya khazanah sastra yang sangat berguna sebagai bagian dari literasi bagi masyarakat.
“Bang Yahya ini tokoh dan sastrawan Betawi yang juga memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan dengan profesinya sebagai dosen di perguruan tinggi,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, bedah buku ini merupakan salah satu bentuk apresiasi agar Yahya Andi Saputra bisa terus memproduksi dan melakukan proses serta ide kreatif, khususnya terkait dengan sastra Betawi.
“Saya ingin kultur budaya Betawi ini bisa tetap langgeng, tertulis dan bahkan dapat dinikmati dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas,” terangnya.
Ia berharap, semakin banyak generasi muda Betawi yang bisa mengikuti jejak Yahya Andi Saputra. Untuk itu, diperlukan satu rutinitas atau pembudayaan interaksi dengan budayawan atau pelaku sastra.
“Harapan kami ke depan, khususnya generasi muda Betawi bisa masuk dalam kultur atau komunitas yang menjadi bagian proses kreatif sastra ini,” katanya.

Sementara itu, Budayawan dan Sastrawan Betawi, Yahya Andi Saputra menuturkan, dol secara harfiah memiliki makna sudah rusak atau di luar kelaziman.
“Buku kumpulan puisi karya saya ini berisi tentang keresahan atas berbagai aspek kehidupan yang sudah tidak berjalan sebagaimana seharusnya,” terang Yahya.
Ia menambahkan, buku menjadi ruang terbuka sebagai tempat atau kawan berdiskusi. Artinya, dalam hidup ini kita tidak boleh berhenti peduli terhadap keadaan di sekitar.
“Buku ini juga menjadi ruang ketiga, buku ini sebagai literasi sangat penting. Sehingga, buku itu bisa dijadikan kawan berdiskusi dan berdialektika untuk masa depan yang lebih cemerlang,” jelas Yahya.
Proses kreatif dalam buku Kumpulan Puisi “Dol” merupakan kumpulan terhadap rasa dan kegelisahan yang kemudian diekspresikan dalam bentuk tulisan. Karya ini menjadi buku kelima untuk kumpulan puisi tinggal yang ditulisnya.
“Ada ide yang sejak tahun 2000-an. Tapi, ada juga yang memang sesuai kondisi terkini dan serta merta terlintas untuk bisa dituliskan,” pungkas.
Dirinya berharap banyak generasi muda, khususnya Betawi bisa berinteraksi atau berkumpul untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai dunia sastra dan budaya. Untuk itu, Ia sedang memperbanyak ruang pertemuan atau diskusi secara langsung agar lebih intens dan bernilai.
Turut hadir dalam acara ini antara lain, kritikus sastra Zen Hae, Dosen sastra Indonesia UNJ, Gres Grasia Azmin serta penulis dan pegiat literasi Betawi, Nicky Rosadi. (*/hel)
