Media Analis Indonesia, Mataram — Menyambut gelaran MotoGP 2025 yang tinggal empat hari lagi, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus mematangkan berbagai persiapan, termasuk mengangkat kearifan lokal melalui tradisi budaya khas Suku Sasak, yakni Betabeq.
Tradisi Betabeq merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga sekitar menjelang digelarnya sebuah hajatan besar. Dalam konteks MotoGP, tradisi ini menjadi sarana simbolik untuk menyampaikan bahwa masyarakat NTB menyambut dunia dengan tangan terbuka serta memohon restu agar acara berjalan lancar dan sukses.
“Kami mendorong agar setiap event besar yang digelar di NTB bisa diselaraskan dengan budaya lokal, termasuk tradisi Betabeq. Ini adalah bagian dari kearifan lokal yang memperkaya makna setiap acara,” ujar Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) NTB, H. Yusron Hadi, S.T., M.UM., Senin (29/9/2025)
Menurutnya, penyelarasan budaya sudah dilakukan sejak MotoGP pertama kali digelar di Mandalika, di mana seni dan motif tradisional NTB ditampilkan dalam berbagai sesi, mulai dari upacara pembukaan hingga elemen pendukung lainnya.
“Penggunaan pakaian adat, motif daerah, hingga keterlibatan seniman lokal menjadi bagian dari upaya kita menyelaraskan event internasional dengan budaya lokal,” tambah Yusron.
MotoGP 2025 di Sirkuit Mandalika bukan sekadar ajang balap; ini juga menjadi panggung budaya NTB di mata dunia.
(Yyt)
