Media Analis Indonesia, Tegal – Universitas Pancasakti Tegal telah melakukan kegiatan pengabdian Masyarakat yang sangat bermanfaat. Kegiatan tersebut adalah dengan melakukan konsevasi penyu yangbertempat di Pulau Bali.
Kegiatan pengabdian Masyarakat dari Universitas Pancasakti Tegal ini berlangsung pada tanggal 27 Maret 2023. Kegiatan ini memiliki nama Offline Joint International Community Service.
Ada beberapa peserta yang mengikuti kegiatan ini dan ikut melakukan konservasi penyu. Peserta dari dalam Universitas Pancasakti Tegal sendiri seoerti Rektor Universitas Pancasakti Tegal, Direktur Pascasarjana, Dekan FKIP, FEB, FISIP, FTIK, FPIK, Seluruh Kaprodi dan Sekprodi di lingkup fakultas FKIP, FEB, FISIP, FTIK, FPIK.
Dari peserta internal Universitas Pancasaki Tegal berjumlah 67 peserta. Selain itu, terdapat pula peserta eksternal yang mengikuti mulai dari warga negara Inonesia dan Warga Negara Asing.
Peserta tersebut adalah Dekan, Dosen FEB Universitas Gunung Jati Swadaya, 4 Warga Negara Asing dari EILMM, Kolkata India. Hadir pula praktisi akademisi Professor RP.Banarjee dari EILMM, Kolkata India.
Pemilihan tempat di Bali ini karena Bali tumbuh sebagai salah satu tempat pelestarian penyu. Dahulu Penyu menjadi sumber makanan, namun saat ini penyu sudah berganti perannya sebagai hewan yang dilindungi sehingga muncul adanya tempat konservasi.
Apa itu konservasi?
Konservasi diharapkan bisa mencegah kepunahan habitat penyu, menghindari eksploitasi penyu untuk tujuan komersial seperti penjualan telur, daging, dan cangkang, serta menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga habitat penyu di Indonesia agar tidak punah.\
Dari permasalahan tentang penyu yang banyak dikonsumsi dan lainnya, Universitas Pancasakti Tegal melakukan pengabdian Masyarakat dengan ikut melakukan konservasi penyu.
Tujuan dari adanya pengabdian Masyarakat tentang konservasi peyu ini adalah untuk memantau aktivitas penyu dan melestarikan lokasi bersarang lokal di Pulau Serangan, Bali. Semua peserta ikut melihat bagaimana kehidupan penyu dan juga ikut dalam kegiatan yang diadakan.
Dengan melakukan konservasi tentunya calon penyu yang masih dalam bentuk telur akan lebih aman karena berada di dalam tempat khusus. Tempat khusus ini tentunya akan menjauhkan telur penyu dari predator yang ada di sekitar.
Dengan mengikuti program ini tentunya banyak manfaat dan juga keuntungan yang bisa peserta dapatkan. Keuntungan dan manfaat utama tentunya peserta kegiatan bisa melihat secara langsung kehidupan penyu dari dekat.
Adapun beberapa keuntungan lainnya antara lain:
• Memperluas wawasan dan pengetahuan tentang budaya internasional serta mengembangkan kerjasama antara institusi pendidikan dan budaya.
• Membangun jaringan global yang lebih luas dengan memfasilitasi interaksi dan pertukaran budaya antara mahasiswa lokal dan mahasiswa asing.
Dari pengabdian yang dilakukan terdapat beberapa hasil yang didapatkan. Berikut beberapa hasil dari pengabdian Masyarakat konservasi penyu yang dilakukan oleh universitas Pancasakti Tegal.
1. Penentasan telur
Pembuatan tempat penetasan telur penyu harus memperhatikan suhu yang optimal bagi pertumbuhan embrio, yaitu antara 24-33⁰C. Embrio akan mati jika berada di luar kisaran suhu ini. Faktor lingkungan seperti suhu pasir sangat mempengaruhi keberhasilan penetasan. Tingkat keberhasilan penetasan pada kedalaman 40 cm, 60 cm, dan 80 cm masing-masing adalah 94,44%, 93,33%, dan 94,44%. Hal ini menunjukkan bahwa suhu di setiap kedalaman masih dalam batas toleransi.
perkembangan embrio penyu laut optimal pada suhu konstan 25-27°C hingga 33-35°C. Jika suhu di luar kisaran tersebut, perkembangan embrio akan terganggu. Suhu pasir diukur menggunakan thermometer digital dengan sensor yang dimasukkan ke dalam sarang, dibiarkan selama 7-10 menit hingga suhu stabil.
2. Relokasi penyu
Teknik relokasi telur merupakan upaya yang dilakukan oleh kepala dan staf Turtle Conservation and Education Center (TCEC) untuk melindungi dan menyelamatkan telur penyu dari gangguan lingkungan.
Proses ini melibatkan pengambilan telur dari habitat aslinya dan memindahkannya ke tempat penetasan semi-alami.
Relokasi telur penyu memiliki dampak positif dan negatif. Positifnya, relokasi membantu melindungi telur dari predator seperti satwa liar pesisir dan meningkatkan peluang keberhasilan penetasan.
Namun, relokasi juga dapat berdampak negatif, karena telur bisa rusak akibat guncangan dan perubahan posisi embrio selama pemindahan.
3. Inkubasi Telur
Proses inkubasi telur penyu dimulai dengan relokasi telur dari habitat aslinya ke tempat penetasan semi-alami. Di tempat ini, beberapa parameter penting seperti suhu pasir,
kelembaban sarang, kedalaman, dan jarak antar sarang dijaga dengan baik.
Waktu inkubasi berlangsung selama 40-50 hari, dengan suhu ideal di Turtle Conservation and Education Center (TCEC) sebesar 29ºC. Setelah menetas, tukik dipindahkan ke kolam beton sebelum akhirnya dilepaskan ke laut. Proses inkubasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, pH, kelembapan, dan kondisi lingkungan lainnya.
4. Proses Pemindahan Tukik
Setelah menetas, tukik dipindahkan ke kolam beton yang terbuat dari fiber atau keramik, berbentuk lingkaran atau persegi panjang.
Kedalaman air di kolam tersebut berkisar antara 5-10 cm untuk memudahkan tukik mengambil oksigen. Tukik dipelihara selama 3-7 hari untuk menghilangkan bau amis agar tidak terdeteksi oleh predator. Namun, beberapa tukik mungkin mati dalam kolam karena masih memiliki placenta.
5. Pelepasan Tukik
Tukik yang telah berumur 3-7 hari kemudian dilepaskan ke laut. Jumlah tukik yang dilepaskan berkisar antara 50-100 ekor. Kegiatan pelepasan ini dihadiri oleh turis, staf, dan relawan TCEC di pantai Padang Galak, Bali.
Pelepasan biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk memastikan kondisi yang ideal. Pelepasan dilakukan secara bertahap sesuai dengan jumlah tukik yang siap, dengan tujuan untuk restocking penyu dan memastikan tukik cukup kuat menghadapi arus dan predator di laut.
Penulis :
Royan Hidayat., S.T. M.T,.
(Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pancasakti Tegal)
