Media Analis Indonesia, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto hadir melayat ke padepokan pencak silat TMII, dimana tokoh pencak silat Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta era 1984-1987, Mayjen TNI (Purn.) Dr. (HC) H. Eddie Mardjoeki Nalapraya disemayamkan.
Presiden Prabowo beserta rombongan tiba di Taman Mini pukul 15.45 WIB dengan didampingi oleh Menlu Sugiono dan Menpora Dito Ariotedjo.
Sebagaimana diketahui, Almarhum Eddie Mardjoeki Nalapraya, merupakan bapak pencak silat Indonesia yang meninggal dunia pada usia 93 tahun di RS Pondok Indah, pukul 9.45 WIB.

Dalam sambutan pelepasan jenazah Presiden Prabowo mengatakan, kami atas nama seluruh masyarakat pencak silat dan atas nama pribadi menyampaikan rasa belasungkawa atas meninggalnya Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Eddie Mardjoeki Nalapraya. Beliau adalah seorang pejuang bangsa yang ikut dalam perang Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Beliau meniti karir dari bawah sebagai seorang prajurit sampai tingkat jenderal.
Dan sebagian besar hidupnya selain mengabdi kepada negara dan bangsa, sebagai Tentara Nasional Indonesia, beliau juga sangat besar perannya dalam membina pencak silat Indonesia,” ujar Prabowo.
“Saya mengenal beliau dari tahun 80-an dan beliau sangat besar perannya dalam membina pencak silat di Indonesia, silat merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang merupakan bagian dari bela diri, dan bela diri adalah bagian dari pola-pola keprajuritan yang sangat penting dalam mempertahankan semangat patriotisme suatu bangsa,” pungkas Prabowo.

Usai memberikan sambutannya Prabowo dan rombongan meninggalkan padepokan pencak silat TMII, selanjutnya tepat pukul 16.00 jenazah diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan diiringi upacara militer.
Sebagai catatan, nama Eddie Mardjoeki Nalapraya lebih dikenal luas sebagai “Bapak Pencak Silat Dunia”, sebuah julukan yang lahir dari kiprah panjang dan kontribusinya dalam memajukan seni bela diri tradisional Indonesia ke panggung internasional.
Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) selama lebih dari dua dekade, dan menjadi pendiri sekaligus tokoh sentral dalam berdirinya Persekutuan Pencak Silat Antarbangsa (PERSILAT)—organisasi induk pencak silat dunia yang mewadahi negara-negara di Asia, Eropa, bahkan Amerika dan Afrika yang mengembangkan pencak silat.

Berkat perjuangannya, pencak silat berhasil masuk sebagai cabang olahraga resmi dalam ajang olahraga regional seperti SEA Games dan Asian Games. Ia juga mendorong pencak silat sebagai warisan budaya tak benda yang diakui oleh UNESCO pada tahun 2019.
Salah satu warisan monumental Eddie adalah pendirian Padepokan Pencak Silat Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Tempat ini bukan hanya sekadar pusat pelatihan, melainkan simbol pemersatu dan pengembang pencak silat nasional dan internasional.
Di padepokan inilah berbagai atlet, pelatih, dan tokoh pencak silat dari seluruh dunia berkumpul, berlatih, dan menjunjung nilai-nilai luhur budaya bangsa. Eddie tidak sekadar membangun gedung, tapi membangun sistem dan jaringan yang kokoh untuk kelangsungan pencak silat di masa depan.
Selama hidupnya, Eddie Mardjoeki Nalapraya menerima berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri, atas jasa-jasanya di bidang militer, olahraga, dan kebudayaan. Ia menjadi simbol integritas, ketekunan, dan komitmen terhadap pelestarian jati diri bangsa melalui pencak silat.(*/hel)
