Media Analis Indonesia, Jakarta – Salah satu kegiatan dalam acara Festival Budaya Kampung Petukangan adalah Diskusi dan Diseminasi Kebudayaan Lenong Betawi dan Ubrug Banten, dengan menampilkan dua orang narasumber yakni Agus Priyatna ( Rik A Sakri ) membahas tentang Lenong Betawi, dan Asep Wahyu Ningrat, membahas Ubruk, kesenian tradisional khas Banten.Kegiatan ini hasil kolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII.
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII adalah unit pelaksana teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas melestarikan warisan budaya di wilayah kerjanya. Wilayah kerja BPK VIII mencakup Provinsi Banten dan DKI Jakarta.
Sebagaimana diungkapkan oleh Yuni Rahmawati, selaku Pamong Budaya balai pelestarian kebudayaan wilayah VIII, Kementerian kebudayaan.
Kementerian kebudayaan itu mempunyai 23 Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), dari Sabang sampai Merauke, untuk wilayah VIII itu meliputi, DKI Jakarta dan Banten.
Karena kedua wilayah ini memiliki kesamaan dalam sejarah dan budaya, serta potensi cagar budaya yang perlu dilestarikan secara bersama. Selain itu, pembentukan wilayah kerja BPK ini juga mempertimbangkan faktor geografis dan kemudahan koordinasi dalam pelaksanaan tugas pelestarian budaya.
Contohnya pada hari ini yang kita diskusikan adalah soal kesenian lenong dari Betawi dan Ubrug dari Banten.
“Tujuannya adalah memberikan informasi dan pengetahuan baru kepada masyarakat luas terkait dua kesenian tersebut,” ungkapnya.

“Di Jakarta itu kalau kita mau melihat kebudayaan itu sangat beragam, kalau bicara kebudayaan itu ada Tangible” dalam bahasa Indonesia berarti nyata, berwujud, atau sesuatu yang dapat diraba atau dilihat secara fisik, seperti cagar budaya.
Sementara Intangible adalah istilah dalam arti tidak berwujud, tak benda, seperti halnya yang sedang dibahas pada sore ini, Lenong dan Ubrug,” jelas Yuni.
Ia menambahkan, saat ini support pemerintah terhadap kebudayaan semakin tinggi dan lebih fokus karena sekarang dinas kebudayaan sudah berdiri sendiri, tidak seperti sebelumnya yang masih tergabung dengan dinas pendidikan.
Pemerintah Indonesia akan terus berupaya menjadi pusat kebudayaan global.
Sementara itu, kedua narasumber yang berdiskusi saling menjelaskan soal kedua kesenian daerahnya masing-masing.
Asep Wahyu Ningrat memaparkan soal kesenian ubrug, menurutnya ubrug adalah kesenian teater rakyat tradisional yang berasal dari Banten, Kesenian ini memadukan unsur komedi, tari, musik, dan sastra (lakon) dalam pementasannya. Ubrug sering kali dipentaskan di lapangan atau halaman terbuka, dan dikenal dengan gaya lawakan yang khas serta penggunaan bahasa yang akrab dengan masyarakat.
“Selain sebagai hiburan, Ubrug juga berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai moral dan sosial kepada masyarakat,” ujar Asep
“Pertunjukan Ubrug melibatkan berbagai unsur, termasuk komedi, tari, musik (biasanya gamelan), dan lakon atau cerita yang dibawakan, sama halnya dengan lenong,” pungkas Asep.
Sementara itu, Agus Priyatna, atau biasa disapa Rik, menjelaskan seputar lenong menurutnya, lenong terbagi menjadi dua jenis utama, ada
lenong denes yang menampilkan cerita tentang kehidupan kerajaan atau bangsawan dengan kostum yang mewah dan megah.
Kemudian ada lenong preman, yang menampilkan cerita kehidupan sehari-hari, seringkali mengangkat tema seperti kisah cinta, keluarga, atau bahkan kriminalitas.
“Lenong adalah seni teater rakyat tradisional Betawi yang memadukan unsur drama, komedi, musik, dan tarian. Pertunjukan ini biasanya menggunakan bahasa Betawi dan diiringi musik gambang kromong,” jelas Agus.
Selain menghibur, lenong juga seringkali menyampaikan pesan moral kepada para penonton, seperti pentingnya tolong menolong dan menjauhi perbuatan buruk. (hel)
