Merah Putih Berkibar, Solidaritas NTB untuk NTT Menguat

Views: 9,753

Media Analis Indonesia, Mataram, NTB — Upacara Detik-Detik Proklamasi dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (17/8), berlangsung khidmat. Di balik kibaran Sang Merah Putih dan sakralnya rangkaian upacara, terselip pesan kemanusiaan yang kuat bagi saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah menghadapi bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7.

Bertindak sebagai inspektur upacara, Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal tampil mengenakan pakaian adat Manggarai, NTT, didampingi Ketua TP PKK NTB Hj. Sinta Agathia M. Iqbal. Pilihan busana tersebut bukan sekadar simbol budaya, melainkan bentuk solidaritas kepada masyarakat Manggarai yang tengah menghadapi bencana.

“Pakaian adat Manggarai ini kami kenakan sebagai bentuk solidaritas kepada masyarakat Manggarai yang sedang menghadapi bencana. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Manggarai tidak sendiri. Kita bersama-sama dengan mereka dalam situasi sulit ini,” ujar Gubernur Miq Iqbal seusai upacara.

Pesan solidaritas itu semakin terasa ketika seluruh peserta upacara yang terdiri atas unsur TNI-Polri, ASN, pelajar, masyarakat, dan tamu undangan mengikuti setiap rangkaian upacara dengan penuh khidmat. Detik-detik Proklamasi menjadi momentum untuk kembali memaknai kemerdekaan sebagai wujud persatuan, kebersamaan, dan rasa senasib sebagai satu bangsa.

Suasana semakin sakral saat Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi NTB menjalankan tugasnya dengan sukses. Putra-putri terbaik perwakilan pelajar SMA/SMK sederajat dari seluruh kabupaten/kota se-NTB melaksanakan tugas pengibaran Sang Merah Putih dengan disiplin dan penuh kehormatan, dikawal pasukan TNI yang tergabung dalam satu kesatuan.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu puncak upacara sekaligus menggambarkan wajah generasi muda NTB yang berdiri tegak membawa amanah bangsa. Di lapangan itu, Sang Merah Putih bukan hanya dikibarkan sebagai simbol kemerdekaan, tetapi juga menjadi pengikat persaudaraan antardaerah.

Usai memimpin upacara, Gubernur Iqbal bersama Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri dan Sinta Agathia kemudian menghampiri masyarakat asal NTT yang menggelar aksi teatrikal di luar halaman Kantor Gubernur NTB.

Para peserta membentangkan spanduk bertuliskan #PRAYFORNTT serta logo “Solidaritas KR–BNN Bali–NTB–NTT” sebagai bentuk keprihatinan dan dukungan terhadap masyarakat NTT yang terdampak bencana.

Tanpa sekat protokoler, Iqbal bersama Umi Dinda dan Sinta Agathia berinteraksi langsung dengan para peserta. Suasana haru seketika terasa ketika Gubernur menghampiri seorang anak laki-laki yang tampak menangis.

Iqbal mengusap air mata anak tersebut dan berusaha menenangkannya.“Jangan menangis. Kuat ya,” ujar Iqbal.

Gubernur kemudian memeluk anak tersebut seraya menyampaikan pesan agar tetap kuat menghadapi situasi yang sedang terjadi.“Kuat ya, kita bersama-sama ya,” katanya.

Momen sederhana itu menjadi gambaran nyata dari pesan solidaritas yang sebelumnya disampaikan Gubernur dalam upacara. Di tengah suasana duka akibat bencana, kehadiran dan pelukan menjadi bahasa kemanusiaan yang tidak membutuhkan banyak kata.

Setelah aksi teatrikal, Gubernur Iqbal mengajak para peserta dan masyarakat yang hadir untuk bersama-sama memanjatkan doa bagi masyarakat NTT yang terdampak gempa.

“Melalui momentum ini, secara khusus saya mengajak seluruh peserta upacara untuk mendoakan warga Nusa Tenggara Timur yang dilanda gempa bumi,” kata Gubernur.

Ia mendoakan agar masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan dan ketabahan, sementara mereka yang menjadi korban jiwa mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Doa tersebut bukan sekadar ungkapan belasungkawa. Bagi Gubernur Iqbal, solidaritas harus diwujudkan dalam tindakan nyata. NTB yang pernah merasakan dahsyatnya gempa pada 2018 memahami betul bagaimana rasanya menghadapi kehilangan, ketakutan, dan ketidakpastian.

“Tahun 2018 kita menghadapi gempa luar biasa di NTB. Kita adalah salah satu daerah yang paling tahu rasanya menghadapi situasi berat seperti itu. Kita paling paham bagaimana pentingnya solidaritas dari saudara-saudara kita,” ujarnya.

Pesan persaudaraan itu kemudian menemukan maknanya dalam aksi anak-anak muda yang menggambarkan hubungan persaudaraan NTB, NTT, dan Bali. Mereka menyampaikan pesan bahwa ketika satu saudara tertimpa bencana, saudara lainnya tidak boleh berpaling.

Dalam suasana duka yang dirasakan masyarakat NTT, aksi tersebut menggambarkan bagaimana persaudaraan harus hadir untuk saling menguatkan, membantu, dan memastikan bahwa mereka yang sedang menghadapi bencana tidak merasa sendirian.

Bagi NTB, pesan tersebut bukan sekadar bagian dari rangkaian kegiatan peringatan HUT RI. Momentum itu menjadi cermin makna kemerdekaan yang sesungguhnya: bukan hanya terbebas dari penjajahan, tetapi juga kesediaan untuk berdiri bersama ketika saudara sebangsa menghadapi kesulitan.

“Satu sakit, yang lain ikut merasakan sakit. Kita bangun rasa persaudaraan dan solidaritas antardaerah,” tegas Gubernur Iqbal.

Semangat tersebut juga menjadi dasar langkah kemanusiaan Pemprov NTB dalam membantu penanganan bencana di NTT. Berbagai unsur dikerahkan dalam satu misi kemanusiaan, mulai dari BPBD, TNI-Polri, tenaga kesehatan, rumah sakit, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga relawan.

“Ini yang hadir bukan lagi atas nama instansi, melainkan atas nama satu NTB,” kata Gubernur.

Dari Lapangan Bumi Gora, pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pesan itu menemukan maknanya: kemerdekaan dirayakan dengan mengibarkan Merah Putih, sementara kemanusiaan diwujudkan dengan mengulurkan tangan.NTT tidak sendiri. NTB bersama mereka.

(Yyt)

Views: 9,753