Miq Iqbal Ungkap Rahasia Harmoni Lombok saat Nuzulul Qur’an, Sekaligus Beberkan Arah Besar Pembangunan NTB

Media Analis Indonesia.Lombok Tengah, NTB – Peringatan Nuzulul Qur’an yang digelar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat di Masjid Jami’ Praya, Jumat malam (6/3/2026), bukan sekadar agenda seremonial keagamaan. Momentum tersebut berubah menjadi panggung refleksi sosial sekaligus penyampaian arah besar pembangunan daerah oleh Gubernur NTB, H. Lalu Muhamad Iqbal atau yang akrab disapa Miq Iqbal.

Di hadapan jamaah yang memadati masjid, Miq Iqbal menegaskan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an tidak hanya menjadi pedoman ibadah; tetapi juga harus hadir dalam kehidupan sosial, menjaga toleransi, serta membangun masa depan daerah.

Menurutnya, masyarakat Lombok sejak lama dikenal memiliki tradisi hidup berdampingan yang kuat. Hal itu tercermin dari keberadaan Masjid Jami’ Praya yang berdiri berdekatan dengan kawasan Peken Laek, wilayah yang sejak lama dihuni masyarakat Tionghoa.

“Ini bukan sekadar kedekatan geografis; tetapi simbol bahwa masyarakat Lombok tumbuh dalam harmoni dan saling menghormati,” ujar Miq Iqbal.

Ia juga mengingatkan kembali peristiwa kerusuhan sosial tahun 1998 yang sempat mengguncang sejumlah daerah di Indonesia. Namun, di Lombok, masyarakat justru menunjukkan sikap berbeda dengan menjaga persaudaraan dan tidak terjebak dalam konflik.

Nilai persaudaraan itu, lanjutnya, sejalan dengan pesan Al-Qur’an yang menegaskan bahwa orang-orang beriman adalah saudara dan harus menjaga persatuan di tengah perbedaan.

Selain menyoroti nilai sosial keagamaan, Miq Iqbal juga memaparkan arah pembangunan strategis NTB yang tengah disiapkan pemerintah daerah. Salah satunya adalah pengembangan Bandara Internasional Lombok menjadi hub penerbangan internasional yang menghubungkan kawasan timur Indonesia dengan negara-negara di sekitar Australia.

Menurutnya, konektivitas bukan hanya soal transportasi; tetapi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat NTB.

Pemerintah juga tengah menyiapkan konsep bandara multimoda yang terintegrasi dengan transportasi udara-air melalui pesawat seaplane, guna menghubungkan berbagai destinasi wisata dan pulau di sekitar Lombok.

Tak hanya itu, kawasan Mandalika juga diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan pusat data (data center) yang akan memperkuat posisi NTB dalam ekosistem ekonomi digital di kawasan timur Indonesia.

Di sektor infrastruktur, pemerintah provinsi turut mendorong pembangunan jalur strategis yang menghubungkan Pelabuhan Lembar di Lombok Barat hingga Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Jalur ini diharapkan mampu mempercepat distribusi logistik dan menekan biaya transportasi komoditas masyarakat.

Meski demikian, Miq Iqbal menegaskan bahwa pembangunan tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat. Ia mengutip pesan Al-Qur’an bahwa perubahan hanya akan terjadi jika masyarakat ikut berikhtiar memperbaiki diri dan lingkungannya.

“Pembangunan bukan hanya kerja pemerintah; tetapi kerja bersama seluruh masyarakat,” tegasnya.

Menurut Miq Iqbal, modal terbesar NTB bukan hanya proyek pembangunan seperti bandara, jalan, atau kawasan wisata; melainkan kekuatan sosial masyarakatnya: kepercayaan, persatuan, dan tradisi toleransi yang telah diwariskan sejak lama.

“Dari iman lahir toleransi; dari toleransi lahir persatuan; dan dari persatuan itulah daerah bisa melangkah menuju masa depan yang lebih maju dan damai,” pungkasnya.

Momentum Nuzulul Qur’an di Masjid Jami’ Praya pun menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya soal infrastruktur dan ekonomi; tetapi juga menjaga harmoni sosial yang menjadi fondasi masa depan Nusa Tenggara Barat.

(Yyt)