Media Analis Indonesia, Lombok Barat – Dalam rangka meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar program edukasi daur ulang bagi siswa-siswi Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya mengurangi sampah plastik demi menjaga kesehatan laut.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (Dirjen PKRL), Victor Gustaaf Manoppo, menyatakan bahwa program edukasi ini diharapkan dapat mengubah pandangan generasi muda mengenai sampah plastik; dari yang dianggap sebagai limbah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis setelah diolah.
“KKP berharap melalui edukasi ini, generasi muda dapat lebih peduli terhadap kelestarian laut dengan mengelola sampah plastik secara bijak; sekaligus mendukung Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS),” jelas Victor di hadapan para siswa SDN 3 Sekotong Barat, Lombok Barat, NTB, Rabu (29/5/2024).

Victor juga menambahkan bahwa edukasi ini tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan warga sekolah dan masyarakat setempat melalui pengelolaan sampah yang bernilai ekonomis.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari kunjungan kerja Ibu Negara Iriana Joko Widodo bersama Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM), yang diadakan pada 30 Mei 2024 di Desa Sekotong Barat, Lombok Barat.
Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Plastik di Laut, KKP menargetkan pengurangan 70 persen sampah laut pada tahun 2025. Oleh karena itu, sejak 2022, KKP secara rutin melaksanakan Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut (Gernas BCL). Pada tahun 2024, Gernas BCL telah dimulai pada awal Mei serentak di 22 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Di lokasi kegiatan, Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Muhammad Yusuf, menjelaskan bahwa sampah plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi berbagai kerajinan tangan. Selain itu, sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan dapat diolah menjadi kompos; sedangkan sabut kelapa yang melimpah di Lombok Barat bisa diolah menjadi cocofeat, pupuk sekaligus media tanam yang baik.
“Mengedukasi generasi muda tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik sangat krusial; masa depan lingkungan kita bergantung pada mereka. Harapan kami, anak-anak mulai sadar bagaimana mengelola plastik dengan lebih baik agar laut tetap sehat dan Indonesia menjadi lebih sejahtera,” tegas Yusuf.

Leni Monika, guru di SDN 3 Sekotong, sangat mengapresiasi inisiatif KKP untuk siswa-siswinya. “Edukasi daur ulang sampah laut sangat berguna bagi anak-anak, terutama karena kami tinggal di dekat pantai. Anak-anak pun termotivasi dan bersemangat mengelola sampah di sekitar sekolah. Semoga setelah kegiatan ini, anak-anak semakin pintar memilah sampah,” ujarnya.
Sementara itu, Neli Familia Sentia, siswa kelas 6 SDN 3 Sekotong, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan ini. “Kemarin, saya mendaur ulang sampah menjadi bahan papan untuk membuat hiasan dan tempat pensil. Saya senang karena sekarang punya tempat pensil baru,” katanya dengan antusias.
Gernas BCL adalah bagian dari program ekonomi biru yang diinisiasi oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, untuk memulihkan kesehatan laut dari dampak negatif sampah plastik sebagai wujud implementasi kebijakan ekonomi biru KKP.
(Yyt)
