Media Analis Indonesia, Tegal – Inventarisasi tanaman berbasis QR-code menjadi salah satu usulan yang baik paada program penngabdian Masyarakat internasional.
Program ini diusulkan oleh akademisi Universitas Pancasakti Tegal.
Kegiatan pengabdian tentang inventarisasi tanaman berbasis QR-code ini diketuai oleh Bayu Widiyanto, M.Si dan juga 2 mahasiswa. Program pengabdian ini berlagsung di salah satu sekolah di negara Thailand.
Program pengabdian yang dilakukan yaitu pembuatan sistem informasi inventarisasi tanaman berbasis QR-Code. Dalam melakukan pengabdian ini tentunya menjadi sebuah hal inovasibaru yang diharapkan agar para guru dan siswa yang berada di salah satu sekolah di Thailand Selatan bisa mendapatkan manfaat dari lingkungan yang ada di sekolah mereka, sebab sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar atau menghafal materi-materi pembelajaran saja, namun juga sebagai sumber ilmu pengetahuan mengenai tanaman-tanaman yang ada di sekitar sekolah tersebut.
Penggunaana teknologi baru dengan adanya QR-Code tentunya patut untuk dicoba dalam mengatur data tumbuhan yang ada di sekolah atau tempat lainnya. Salah satu inovasi yang dapat diterapkan adalah penggunaan teknologi Quick Response Code (QR-Code) sebagai alat untuk mengidentifikasi tanaman di sekitar sekolah. Dengan teknologi ini, informasi detail tentang tanaman tersebut dapat diubah menjadi kode dua dimensi dan dicetak pada media yang lebih efisien.
Dengan memanfaatkan QR-Code, inovasi baru dapat diterapkan dalam kegiatan pengabdian di salah satu sekolah yang terletak di Satun, Thailand Selatan, sebagai upaya meningkatkan pelayanan informasi bagi guru dan siswa. QR-Code ini digunakan dengan menempelkannya pada setiap tanaman yang dilengkapi dengan informasi tambahan.
Informasi tambahan ini disajikan dalam ruang atau media yang kecil untuk efisiensi. Mahasiswa memilih metode tersebut untuk mengatasi masalah identifikasi tanaman di sekolah tersebut, karena QR-Code dapat berfungsi sebagai pelengkap pemberian nama tanaman.
Guru dan siswa yang ingin mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang tanaman tertentu dapat memanfaatkan QR-Code ini. Sumber informasi utama tentang tanaman, yaitu nama ilmiah, tetap dituliskan karena QR-Code adalah kode visual yang tidak bisa dipahami langsung oleh manusia.
Pada pengabdian yang dilakukan, ditemukan permasalahan tentang tidak adanya system inventarisasi tanaman yang baik. Tidak adanya system ini tentunya sedikit merepotkan Ketika nantinya hendak diambil data tentang tumbuhan yang ada di sekolah.
Pada tanggal 9 Januari hingga 7 Februari 2023, Annuban Wang Mai Sasanasart School di Satun, Thailand Selatan, menjadi lokasi berlangsungnya kegiatan pengabdian yang melibatkan tiga guru dan 17 siswa yang dipilih secara acak. Peserta kegiatan ini terdiri dari siswa kelas 5 dan 6 SD hingga kelas 1, 2, dan 3 SMP. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pelayanan informasi dan edukasi melalui penggunaan teknologi QR-Code.
Kegiatan pengabdian ini diawali dengan tahap persiapan yang mencakup pendataan jenis tanaman di sekitar sekolah dan pembuatan QR-Code yang berisi informasi lengkap mengenai setiap tanaman. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua tanaman yang ada di lingkungan sekolah teridentifikasi dengan baik dan memiliki informasi yang akurat.
Setelah tahap persiapan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan yang melibatkan pemasangan QR-Code pada setiap tanaman dan pelatihan penggunaan QR-Code bagi guru dan siswa.
QR-Code ditempel dengan hati-hati pada tanaman dan dilengkapi dengan informasi tambahan yang disajikan secara efisien dan jelas.
Beberapa alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan ini antara lain handphone untuk identifikasi dan pemindaian QR-Code, laptop untuk mendata jenis tanaman dan membuat QR-Code, alat laminating untuk melapisi kertas yang berisi QR-Code agar lebih tahan lama, printer untuk mencetak QR-Code dan informasi tanaman, serta alat tulis dan tali atau pengait untuk menempelkan QR-Code pada tanaman. Semua alat dan bahan tersebut berperan penting dalam memastikan kegiatan berjalan lancar dan sesuai rencana.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini melibatkan observasi langsung dan pemberian kuesioner kepada siswa yang dipilih secara acak. Kuesioner disusun dalam bahasa Thailand untuk memudahkan siswa dalam menjawab, dan menggunakan Google Forms untuk pengumpulan data. Kuesioner tersebut berisi sepuluh pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa mengenai tingkat pemahaman mereka terhadap penggunaan QR-Code dan manfaat yang mereka rasakan.
Hasil dari kegiatan pengabdian yang telah dilakukan terbilang sangat positif. Data yang diperoleh dari observasi dan kuesioner menunjukkan bahwa siswa merasa lebih terbantu dengan adanya QR-Code. Mereka dapat dengan mudah mengakses informasi ilmiah tentang tanaman, seperti nama ilmiah, habitat, dan karakteristik tanaman.
Hal ini tidak hanya memperkaya pengetahuan siswa tentang botani tetapi juga meningkatkan keterampilan mereka dalam menggunakan teknologi. Guru juga merasakan manfaat dari inovasi ini, karena mereka dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap dan mendetail kepada siswa hanya dengan memindai QR-Code yang terpasang pada tanaman.
Kegiatan pengabdian di Annuban Wang Mai Sasanasart School berhasil menunjukkan bahwa penggunaan teknologi QR-Code dapat menjadi alat yang efektif dalam mengidentifikasi tanaman dan menyediakan informasi edukatif secara efisien. Program ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tentang flora di sekitar mereka, tetapi juga memotivasi mereka untuk belajar lebih dalam menggunakan teknologi modern.
Inovasi ini membuktikan bahwa kolaborasi antara teknologi dan pendidikan dapat memberikan manfaat yang signifikan dan membuka wawasan baru bagi para siswa.
Penulis :
Royan Hidayat., S.T. M.T,.
(Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Pancasakti Tegal).
