<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ismet Rauf &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaanalisindonesia.com/read/tag/ismet-rauf/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<description>Fakta &#38; Aktual</description>
	<lastBuildDate>Sun, 09 Jun 2024 05:59:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/favico-1-150x150.png</url>
	<title>Ismet Rauf &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>OBITUARI: Pak Ismet Rauf, Kami Kirim Doa dari Rangkasbitung</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/obituari-pak-ismet-rauf-kami-kirim-doa-dari-rangkasbitung/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/obituari-pak-ismet-rauf-kami-kirim-doa-dari-rangkasbitung/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 09 Jun 2024 05:59:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Ismet Rauf]]></category>
		<category><![CDATA[Meninggal Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Obituari]]></category>
		<category><![CDATA[PWI]]></category>
		<category><![CDATA[Wartawan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=10141</guid>

					<description><![CDATA[Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kehilangan wartawan senior yang terus-menerus memberi keteladanan hingga akhir hayat. Wartawan kawakan berkelas internasional itu adalah&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kehilangan wartawan senior yang terus-menerus memberi keteladanan hingga akhir hayat. Wartawan kawakan berkelas internasional itu adalah Ismet Rauf.</p>
<p>Pria kelahiran Payakumbuh ini pernah menitipkan biodatanya yang ia tulis sendiri pada saya. Begini biodatanya:</p>
<p>“Ismet Rauf (Wartawan Kantor Berita Antara 1967 -2002), antara lain pernah jadi Koresponden Antara di Kuala Lumpur, Wina ; &#8212;<br />
tim penulis buku 30 Tahun Konperensi Asia Afrika (Antara, 1985) &#8212; Diplomasi Indonesia (Kemlu RI 1995, lima jilid), &#8212; staf khusus Menkominfo bidang multimedia (2006) &#8212;<br />
Wartawan Utama, penguji UKW (2012), penerima Lifetime Achievement Award (Antara. 2011) &#8212; anugerah ini Press Card Number One (2012), Penasehat Pengurus Pusat PWI (2018-2023) &#8212; Pemred Kantor Berita MINA sejak 2014 (Terbit dalam Bahasa Indonesia, Inggris dan Arab)”.</p>
<p>Saya memang pernah bilang pada beberapa kawan wartawan agar menulis riwayat hidup yang lengkap berikut pencapaian- pencapaianya supaya kalau meninggal catatan itu bisa digunakan bahan menulis obituari atau in memoriam.</p>
<p>Singkat kata saya bermaksud mengajak kawan-kawan menyiapkan catatan obituari sendiri. Titip kan pada siapa saja. Kita sendiri lah yang lebih tahu tentang perjalanan dan pencapaian sendiri.</p>
<p>Pak Ismet mendukung gagasan saya. Dia lalu kirim biodata ke kami. Katanya boleh untuk keperluan apa saja.</p>
<p>Salah satunya biodata Ismet kami gunakan untuk pembuatan brosur Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Fakultas Komunikasi Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama), Jakarta, tempat ia mengabdi sebagai penguji.</p>
<p>Ismet Rauf meninggal Rabu 5 Juni 2024 di rumahnya di Depok, Jawa Barat dalam usia 79 tahun.</p>
<p>Pencinta buku dan penulis yang lahir di Payakumbuh Sumatera Barat pada 15 November 1945 itu meninggalkan seorang istri, Yunidar Ismet, dan tiga anak laki-laki yaitu Rully R Ismet, Reza T Ismet, dan Aga W Ismet.<br />
Alamarhum meninggal pukul 08.00 dan dikebumikan pukul 14.30 di Tempat Pemakaman Umum Rawa Geni Kecamatan Cipayung, Kota Depok dengan diantar keluarga dan rekan-rekan almarhum sesama wartawan.</p>
<p>Ucapan duka cita dan doa mengalir dari mana-mana, terutama dari para wartawan senior.</p>
<p>Ada yang menyampaikan dalam bentuk bunga, tulisan duka cita lewat media sosial, hingga pemuatan press release In Memoriam seperti yang ditulis teman sejawatnya, mantan wartawan Antara, Aat Surya Safaat.</p>
<p>Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch. Bangun melalui WhatsApp group PWI juga turut menyampaikan ucapan duka cita.</p>
<p>“Innalilahi wa innailaihi rojiun. Senior PWI produktif, penulis buku Sejarah PWI, dan banyak lagi di setiap penyelenggaraan Hari Pers Nasional. Semoga arwah almarhum diterima baik di sisiNya dan keluarga yang ditinggal diberi kekuatan. Alfatihah,” tulis Hendry Ch. Bangun setelah lsmet menghembuskan napas terakhir.</p>
<p>Ketika itu kami sedang mempersiapkan pembukaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di aula sebuah hotel sangat sederhana di Rangkasbitung, Banten.</p>
<p>Jarak Jakarta- Rangkasbitung sekitar 100 kilometer. Karena jarak inilah yang membuat kami merasa bersalah karena tidak bisa hadir takziah.</p>
<p>Rangkasbitung sebuah lokasi yang menginspirasi Eduard Douwes Dekker atau Multatuli yang mengecam bangsanya sendiri, bangsa Belanda yang menjajah Indonesia.</p>
<p>Kecaman dan perlawanan disampaikan lewat tulisan melalui novelnya berjudul Max Havelaar Novel ini pertama kali terbit pada 1860 dan terkenal di Belanda.</p>
<p>Di aula hotel tersebut telah hadir Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat Dr Firdaus Komar, Ketua PWI Provinsi Banten Rian Nopandra, sejumlah penguji UKW, PJ. Bupati Lebak Iwan Kurniawan, dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Lebak dr Anik Sakinah, M.Si.</p>
<p>Rasa bersalah sedikit terobati pada keesokan harinya ketika penutupan UKW. Di ujung kegiatan, panitia UKW mengajak berdoa bersama khusus untuk almarhum Ismet Rauf.</p>
<p>Hopip, salah seorang penguji UKW yang sering kami sapa “ustadz”tampil ke depan dan memimpin doa khusus untuk almarhum Ismet.</p>
<p>“Ya itu tadi kiriman doa dari rekan-rekan PWI Banten,” kata Rian Nopandra yang berjalan keluar aula berdampingan dengan Firdaus, penguji yang juga Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia.</p>
<p>Ismet dalam kesaksian saya adalah wartawan senior yang baik. Ia disiplin, get things done (bekerja tuntas), dan sholat tepat waktu.<br />
Kami belum pernah mendengar dia membicarakan kekurangan orang lain.</p>
<p>Belakangan dia tercatat sebagai penguji UKW di lembaga UKW Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama).</p>
<p>Sering menguji bersama kami di beberapa daerah. Bahkan dia sering “dipasangkan” tidur sekamar di hotel dengan saya.</p>
<p>Entah apa yang dipikirkan oleh panitia antara saya dan Ismet sehingga sering ditempatkan di satu kamar.</p>
<p>Saya sih manut (ikut) apa kata panitia. Lagi pula saya senang bersama pak Ismet. Dia tidak merokok.</p>
<p>Selama di kamar, dia lebih banyak diam. Ketika saya pancing-pancing dengan pertanyaan, dia baru bercerita. Cerita pengalamannya sebagai wartawan.</p>
<p>Dia pernah ditugaskan oleh Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara di berbagai belahan dunia seperti yang ia tulis sendiri dalam biodatanya.</p>
<p>Saya senang mendengarkan Ismet bercerita sampai menjelang tidur. Kalau sudah mau tidur, Ismet bersiap-siap, selimutnya ditata sedemikian rupa, rapih.</p>
<p>Tidak seperti saya. Tidur dengan posisi sekenanya. Seringkali tidak memperdulikan selimut.</p>
<p>Karena sering tidur sekamar di tempat tidur dobel, saya hapal kebiasaannya di malam hingga pagi. Ketika menjelang waktu subuh, dia bangun dan segera sholat.</p>
<p>Saya juga tahu dia sering mengego. Pernah ia teriak keras dalam tidurnya. Saya bangunkan, “Pak Pak, ada apa”.</p>
<p>“Enggak ada apa-apa” tuturnya sambil membalik bantal di kepalanya.</p>
<p>Kini rekan Ismet Rauf telah berpulang untuk selamanya. Misi mulianya sebagai wartawan sudah dilaksanakan. Selamat jalan senior.</p>
<p><em> (Mohammad Nasir, pensiunan wartawan Harian Kompas).</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/obituari-pak-ismet-rauf-kami-kirim-doa-dari-rangkasbitung/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>In Memoriam: Wartawan Senior dan Pencinta Buku, Ismet Rauf</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/in-memoriam-wartawan-senior-dan-pencinta-buku-ismet-rauf/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/in-memoriam-wartawan-senior-dan-pencinta-buku-ismet-rauf/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jun 2024 23:42:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Ismet Rauf]]></category>
		<category><![CDATA[PWI]]></category>
		<category><![CDATA[Wartawan Senior]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=9913</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Aat Surya Safaat* “Tulisan, bagaimanapun, demikian berguna bagi kehidupan masyarakat secara luas. Tidak mudah memang. Perlu ketekunan dan kerja&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Aat Surya Safaat*</em></p>
<p>“Tulisan, bagaimanapun, demikian berguna bagi kehidupan masyarakat secara luas. Tidak mudah memang. Perlu ketekunan dan kerja keras agar kita pandai menulis. Tetapi sejatinya kita pasti bisa! Karenanya perlu pula disadari bahwa menulis adalah ibadah dan menuangkan pikiran melalui tulisan adalah juga bernilai sedekah.”<br />
Demikian kata-kata bijak dari almarhum Ismet Rauf, wartawan senior yang juga penulis handal dalam satu kesempatan bincang-bincang dengan beberapa wartawan yunior di Jakarta beberapa waktu lalu.</p>
<p>Ismet Rauf berpulang ke Rahmatullah pada hari Rabu tanggal 5 Juni 2024 di kediamannya di Depok Jawa Barat dalam usia 79 tahun. Pencinta buku dan penulis yang lahir di Payakumbuh Sumatera Barat pada 15 November 1945 itu meninggalkan seorang istri, Yunidar Ismet, dan tiga anak laki-laki yaitu Rully R Ismet, Reza T Ismet, dan Aga W Ismet.<br />
Alamarhum meninggal dunia pada pk. 08.00 dan dikebumikan pada pk. 14.30 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Rawa Geni Kecamatan Cipayung Kota Depok Jawa Barat dengan diantar oleh keluarga dan sanak famili serta rekan-rekan almarhum sesama wartawan.</p>
<p>Khusus di lingkungan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan di komunitas wartawan pada umumnya, siapa tak kenal Ismet Rauf. Almarhum adalah peraih Anugerah “Press Card Number One” dari PWI dan penerima Penghargaan “Long Life Achievement” dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, tempatnya mengabdi sejak 1967 hingga 2002.</p>
<p>Almarhum saat aktif sebagai wartawan Antara sering menjuarai lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga di Jakarta. Tulisannya yang berupa feature (karangan khas) selalu “interesting”, “inspiring” dan “motivating”, sehingga tak heran almarhum menjadi teladan bagi para wartawan yunior di kantor berita tersebut.</p>
<p>Jurnalis senior itu kenyang pengalaman sebagai wartawan, baik di dalam maupun di luar negeri. Dia pernah menjadi Kepala Biro LKBN Antara di Kuala Lumpur Malaysia dan pernah melaksanakan tugas jurnalistik ke belasan negara, dari negara tetangga terdekat Singapura hingga Australia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-9914 size-full" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/06/IMG-20240605-WA0064.jpg" alt="" width="430" height="317" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/06/IMG-20240605-WA0064.jpg 430w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/06/IMG-20240605-WA0064-300x221.jpg 300w" sizes="(max-width: 430px) 100vw, 430px" /></p>
<p>Semasa hidupnya almarhum juga banyak menulis buku, baik secara individu maupun bersama tim, di antaranya “Perjalanan Panjang PWI” yang diterbitkan oleh PWI Pusat pada September 2018 dengan editor Wartawan Senior Djunaedi Tjunti Agus dan Widodo A.</p>
<p>Wartawan senior yang sering mendapat amanah sebagai Ketua Dewan Juri pada lomba karya tulis di Pusat Bahasa itu juga menjadi Ketua Tim Penulis Buku &#8220;Diplomasi Indonesia dari Masa Ke Masa&#8221; (lima jilid) yang diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri RI pada 1997.<br />
Sebelumnya, Ismet Rauf bersama Wartawan Senior Saleh Dani Adam dan Riyanto D Wahono (semuanya sudah almarhum) menulis buku “Siapa Siapa Wartawan Jakarta”. Buku dengan editor Wartawan Senior Marah Sakti Siregar itu diterbitkan PWI Jaya pada 2003. Ia juga menjadi editor buku “Liku-liku Kisah Wartawan” yang terbit pada Januari 2020.</p>
<p>Mengingat kompetensi dan profesionalismenya sebagai wartawan, almarhum mendapatkan amanah pada beberapa posisi strategis, baik di PWI Jaya maupun di PWI Pusat, antara lain pernah menjadi Ketua Dewan Kehormatan PWI Jaya dan Ketua Departemen Jurnal dan Buku PWI Pusat.</p>
<p>Sampai akhir hayatnya, almarhum masih bekedudukan sebagai Pemimpin Redaksi LINTAS, sebuah majalah yang berfokus pada hal-hal terkait infrastruktur dan transportasi di Indonesia dan masih tercatat sebagai Penguji pada Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (LUKW) Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).</p>
<p>Selain itu almarhum masih menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Kantor Berita MINA sejak 2015. MINA sendiri adalah kantor berita umum yang berlandaskan Islam dan menyiarkan berita secara online dalam tiga bahasa, yaitu bahsa Indonesia, Arab dan Inggris, dengan tagline “Peace in Palestine, Peace in the World” (Damai di Palestina, Damai di Dunia).</p>
<p>Terkait kunci sukses Ismet Rauf sebagai wartawan, penulis yang merupakan yuniornya di LKBN Antara melihat bahwa almarhum adalah wartawan yang banyak membaca, selain pandai bergaul dengan berbagai kalangan.</p>
<p>“Kunci pandai menulis adalah banyak membaca. Dengan banyak membaca, pasti banyak pula yang bisa kita tulis. Kalau kita kurang membaca, tak ubahnya seperti teko kosong. Mau diisikan ke gelas yang kosong, pasti tidak ada isinya,” kata almarhum pada suatu kesempatan.</p>
<p>Seorang penulis, lanjutnya, dapat membantu meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis seseorang. Dengan menulis, seseorang akan belajar untuk mengatur ide-ide serta menghasilkan gagasan-gagasan baru dan menarik untuk dibagikan kepada pembaca. Selain itu, menjadi seorang penulis, menurut almarhum, juga memiliki potensi untuk mendapatkan tambahan penghasilan.</p>
<p><em>*Aat Surya Safaat adalah Penguji pada Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI. Penulis pernah menjabat sebagai Direktur Pemberitan LKBN Antara (2016) dan menjadi Kepala Biro Antara di New York AS (1993-1998).</em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/in-memoriam-wartawan-senior-dan-pencinta-buku-ismet-rauf/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
