<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dodol Betawi &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaanalisindonesia.com/read/tag/dodol-betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<description>Fakta &#38; Aktual</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jan 2025 13:44:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/favico-1-150x150.png</url>
	<title>Dodol Betawi &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ini Makna Kue Keranjang Khas Imlek Menurut Budayawan Betawi</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/ini-makna-kue-keranjang-khas-imlek-menurut-budayawan-betawi/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/ini-makna-kue-keranjang-khas-imlek-menurut-budayawan-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jan 2025 13:41:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Dodol Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Etnis Tionghoa]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Kue Keranjang]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=23188</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Salah satu kuliner yang tak pernah absen dalam perayaan etnis Tionghoa adalah kue keranjang. Siapa&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Salah satu kuliner yang tak pernah absen dalam perayaan etnis Tionghoa adalah kue keranjang. Siapa sangka bahwa kue keranjang ini menyimpan makna mendalam melekatkan dengan masyarakat Betawi.</p>
<p>Kue keranjang merupakan salah satu kuliner paling populer dalam perayaan Imlek. Selain disajikan sebagai kudapan, kue keranjang juga sebagai pelengkap upacara sembahyang etnis Tionghoa di meja abu.</p>
<p>Kue keranjang ini kerap disebut sebagai Nian Gao dan biasa sebagai makanan penutup yang populer saat Tahun Baru Imlek. Selain digunakan sebagai upacara sembahyang, sajian ini juga menjadi makanan Festival Musim Semi dan dipercaya membawa keberuntungan.</p>
<p>Sebagaimana yang dikatakan oleh pengamat Budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa kue China sejak dahulu menyimbolkan keakraban orang Betawi dengan etnis Tionghoa. “Jadi memang sudah ada sejak dulu tradisi (mengantar kue China ke masyarakat Betawi). Kita, orang Betawi tidak pernah ada problem rasis dengan mereka,” jelas Yahya.</p>
<figure id="attachment_23189" aria-describedby="caption-attachment-23189" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-23189 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-1024x576.jpg" alt="" width="640" height="360" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-1024x576.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-300x169.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-768x432.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039.jpg 900w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-23189" class="wp-caption-text">Pengamat Budaya Betawi, Yahya Andi Saputra</figcaption></figure>
<p>Kue keranjang sekilas mirip dengan dodol Betawi. Sehingga banyak orang mengira bahwa panganan ini merupakan produk akulturasi. Namun, Bang Yahya menyatakan bahwa baik dodol Betawi maupun kue keranjang berdiri masing-masing.</p>
<p>“Persamaannya hanya, mereka sama-sama menjadi hidangan perayaan agama masing-masing. Kue keranjang untuk Imlek, dan dodol Betawi untuk Lebaran,” jelasnya.</p>
<p>Dengan berbahan dasar tepung ketan, terigu, garam dan gula, kue ini memiliki cita rasa yang manis dan lengket. Di balik lengketnya itulah kue keranjang juga diharapkan mampu melekatkan hubungan Betawi dan etnis Tionghoa. “Dulu kue China ini bentuknya bundar, belum ada tulisan Chinanya seperti itu,” ujar Yahya.</p>
<p>Hal ini juga disepakati oleh salah satu penjual kue keranjang di kawasan Petak Sembilan, yaitu Alim. Ia menyatakan bentuk kue keranjang zaman dahulu sangat sederhana —berbentuk bundar dan dibungkus daun. Berbeda dengan sekarang yang sudah modern dengan berbagai sajian.</p>
<p>“Memang cetakannya pakai keranjang, maka disebut kue keranjang. Kalau dulu hanya bundar dibungkus daun. Tapi sekarang banyak variannya ada yang diwadahi plastik dan dibungkus macam-macam,” ungkapnya.</p>
<p>Saat ini ada beberapa daerah yang sangat terkenal dengan pembuatan kue keranjangnya antara lain, dari Tangerang, Medan, Surabaya, hingga Tegal. (*/hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/ini-makna-kue-keranjang-khas-imlek-menurut-budayawan-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budayawan: Dodol Betawi Paling Asyik Dinikmati Sesudah Lebaran</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-dodol-betawi-paling-asyik-dinikmati-sesudah-lebaran/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-dodol-betawi-paling-asyik-dinikmati-sesudah-lebaran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2024 10:58:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan]]></category>
		<category><![CDATA[Dodol Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=6981</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Budayawan Yahya Andi Saputra mengemukakan bahwa dodol Betawi sebenarnya paling asyik dinikmati pada pagi atau&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Budayawan Yahya Andi Saputra mengemukakan bahwa dodol Betawi sebenarnya paling asyik dinikmati pada pagi atau sore hari sesudah Lebaran.</p>
<p>&#8220;&#8216;Dinikmatin&#8217; pagi atawa sore dengan kopi &#8216;pait&#8217; &#8216;atawa&#8217; teh &#8216;pait&#8217;,&#8221; ujar budayawan yang tergabung di Lembaga Kebudayaan Betawi itu saat dihubungi di Jakarta, Kamis (11/4/2024).</p>
<p>Yahya mengatakan apabila ingin menikmati dodol, keluarganya membuat sendiri. Sementara dodol bukan termasuk hidangan yang mudah dibuat karena ada aturan dan pantangan.</p>
<p>Karena itu, orang Betawi hanya membuatnya pada hari-hari tertentu seperti Lebaran dan pernikahan.</p>
<p>&#8220;Dulu, dodol kan bukan kue murahan dan gampangan. &#8216;Bikinnye ribet&#8217;. Ada aturan dan pantangan,&#8221; kata dia.</p>
<p>Namun kini, relatif sudah banyak orang yang membuatnya sehingga tinggal memilih yang cocok dan membelinya.</p>
<p>&#8220;Kalo dulu ngaduk sendiri, sekarang udah banyak yang jualan, ya kita beli. Pilih mana yang paling &#8216;pas&#8217; dan paling cocok sama bikinan keluarga. Itu gampang jadinya,&#8221; kata dia.</p>
<p>Dodol Betawi saat ini, menurut Yahya, sudah menjadi kue pasar sehingga dapat dinikmati kapan saja dan dalam berbagai kegiatan atau acara.</p>
<p>&#8220;Keluarga saye sih, kalau Lebaran, dari jaman engkong ampe sekarang, tetep sediain dodol,&#8221; ujar dia.</p>
<p>Merujuk laman Warisan Budaya Takbenda Indonesia Kementerian Kebudayaan bahwa pembuatan dodol Betawi yang terdiri dari varian ketan putih, ketan hitam dan durian, rumit.</p>
<p>Bahan baku pembuatan yang terdiri dari ketan, gula merah, gula pasir dan santan harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar selama delapan jam.</p>
<p>Kemudian, untuk membuatnya perlu tenaga ekstra dalam mengaduk adonan dodol. Hal ini karena dalam satu panci kuali besar dengan diameter satu meter, adonan dodol harus diaduk selama tujuh jam tanpa berhenti.</p>
<p>Jika berhenti maka adonan akan keras dan rasanya tidak merata.</p>
<p>Keluarga besar Betawi yang dulunya hidup berdekatan, saling melengkapi bahan dasar pembuatan dodol. Begitu bahan tersedia, para pria bertugas membuat dodol Betawi dan mengaduk adonan. Sedangkan para wanita menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-dodol-betawi-paling-asyik-dinikmati-sesudah-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sebaiknya Konsumsi Dodol Betawi Tak Lebih dari 100 Gram per Hari</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/sebaiknya-konsumsi-dodol-betawi-tak-lebih-dari-100-gram-per-hari/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/sebaiknya-konsumsi-dodol-betawi-tak-lebih-dari-100-gram-per-hari/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Apr 2024 09:44:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Dodol Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Idulfitri]]></category>
		<category><![CDATA[Kalori]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=6972</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Dokter spesialis gizi klinik dr. Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, Sp. G. K-AIFO mengingatkan bahwa dodol&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Dokter spesialis gizi klinik dr. Raissa Edwina Djuanda, M.Gizi, Sp. G. K-AIFO mengingatkan bahwa dodol Betawi sebaiknya tak dikonsumsi, misalnya, saat Lebaran tak lebih dari 100 gram per hari mengingat kalorinya yang tinggi.</p>
<p>&#8220;Sebaiknya dodol Betawi dikonsumsi dalam jumlah secukupnya dan sewajarnya,&#8221; kata dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Cabang DKI Jakarta itu saat dihubungi di Jakarta, Kamis (11/4/2024).</p>
<p>Raissa mengatakan konsumsi dodol lebih baik lagi jika dikombinasikan dengan makanan lain yang kaya serat seperti buah dan sayur.</p>
<p>&#8220;Batasi konsumsi makanan dan minuman manis lainnya jika sudah mengonsumsi dodol Betawi,&#8221; kata dia yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah itu.</p>
<p>Dodol Betawi mengandung sejumlah zat gizi salah satunya sumber karbohidrat baik yang dapat memberikan energi bagi tubuh dan makanan ini juga mengandung sejumlah makronurien serta mikronutrien lainnya yang dibutuhkan tubuh.</p>
<p>Raissa menyebutkan dalam 100 gram dodol Betawi terkandung energi (391 kkal), karbohidrat (76,1 gram), protein (3,8 gram) dan lemak (3,8 gram).</p>
<p>Selain itu, imbuh dia, ada juga kalsium (34 mg), fosfor (124 miligram), zat besi (2,8 miligram), natrium (54 miligram), kalium (244 miligram), vitamin B1 (0,1 miligram), vitamin B2 ( 0,06 miligram) dan vitamin C (2 miligram).</p>
<p>Raissa mengingatkan, kendati mengandung berbagai zat gizi lainnya seperti protein dan lemak, masyarakat perlu ingat dodol Betawi ini memiliki kandungan gula yang tinggi.</p>
<p>&#8220;Jika dikonsumsi berlebihan dapat berisiko menyebabkan obesitas dan masalah kesehatan lainnya,&#8221; kata dia.</p>
<p>Dodol Betawi yang tak lain jenis dodol khas suku Betawi merujuk Kementerian Kebudayaan merupakan salah satu penganan khusus saat Hari Idul Fitri atau Idul Adha.</p>
<p>Penganan ini berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa yang lebih sedikit daripada dodol dari daerah</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/sebaiknya-konsumsi-dodol-betawi-tak-lebih-dari-100-gram-per-hari/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
