<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Diskusi &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaanalisindonesia.com/read/tag/diskusi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<description>Fakta &#38; Aktual</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jun 2025 23:16:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/favico-1-150x150.png</url>
	<title>Diskusi &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Festival Budaya Kampung Petukangan 2025 Bikin &#8220;Diskusi dan Diseminasi Kebudayaan Lenong Betawi dan Ubrug Banten&#8221;</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/festival-budaya-kampung-petukangan-2025-bikin-diskusi-dan-diseminasi-kebudayaan-lenong-betawi-dan-ubrug-banten/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/festival-budaya-kampung-petukangan-2025-bikin-diskusi-dan-diseminasi-kebudayaan-lenong-betawi-dan-ubrug-banten/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Jun 2025 23:16:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Budaya Kampung Petukangan]]></category>
		<category><![CDATA[Kampung Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=29556</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Salah satu kegiatan dalam acara Festival Budaya Kampung Petukangan adalah Diskusi dan Diseminasi Kebudayaan Lenong&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Salah satu kegiatan dalam acara Festival Budaya Kampung Petukangan adalah Diskusi dan Diseminasi Kebudayaan Lenong Betawi dan Ubrug Banten, dengan menampilkan dua orang narasumber yakni Agus Priyatna ( Rik A Sakri ) membahas tentang Lenong Betawi, dan Asep Wahyu Ningrat, membahas Ubruk, kesenian tradisional khas Banten.Kegiatan ini hasil kolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII.</p>
<p>Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII adalah unit pelaksana teknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas melestarikan warisan budaya di wilayah kerjanya. Wilayah kerja BPK VIII mencakup Provinsi Banten dan DKI Jakarta.</p>
<p>Sebagaimana diungkapkan oleh Yuni Rahmawati, selaku Pamong Budaya balai pelestarian kebudayaan wilayah VIII, Kementerian kebudayaan.</p>
<p>Kementerian kebudayaan itu mempunyai 23 Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), dari Sabang sampai Merauke, untuk wilayah VIII itu meliputi, DKI Jakarta dan Banten.</p>
<p>Karena kedua wilayah ini memiliki kesamaan dalam sejarah dan budaya, serta potensi cagar budaya yang perlu dilestarikan secara bersama. Selain itu, pembentukan wilayah kerja BPK ini juga mempertimbangkan faktor geografis dan kemudahan koordinasi dalam pelaksanaan tugas pelestarian budaya.</p>
<p>Contohnya pada hari ini yang kita diskusikan adalah soal kesenian lenong dari Betawi dan Ubrug dari Banten.</p>
<p>&#8220;Tujuannya adalah memberikan informasi dan pengetahuan baru kepada masyarakat luas terkait dua kesenian tersebut,&#8221; ungkapnya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-29557 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250629-WA0002-1024x721.jpg" alt="" width="640" height="451" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250629-WA0002-1024x721.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250629-WA0002-300x211.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250629-WA0002-768x541.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250629-WA0002-1536x1082.jpg 1536w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250629-WA0002.jpg 900w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>&#8220;Di Jakarta itu kalau kita mau melihat kebudayaan itu sangat beragam, kalau bicara kebudayaan itu ada Tangible&#8221; dalam bahasa Indonesia berarti nyata, berwujud, atau sesuatu yang dapat diraba atau dilihat secara fisik, seperti cagar budaya.<br />
Sementara Intangible adalah istilah dalam arti tidak berwujud, tak benda, seperti halnya yang sedang dibahas pada sore ini, Lenong dan Ubrug,&#8221; jelas Yuni.</p>
<p>Ia menambahkan, saat ini support pemerintah terhadap kebudayaan semakin tinggi dan lebih fokus karena sekarang dinas kebudayaan sudah berdiri sendiri, tidak seperti sebelumnya yang masih tergabung dengan dinas pendidikan.<br />
Pemerintah Indonesia akan terus berupaya menjadi pusat kebudayaan global.</p>
<p>Sementara itu, kedua narasumber yang berdiskusi saling menjelaskan soal kedua kesenian daerahnya masing-masing.<br />
Asep Wahyu Ningrat memaparkan soal kesenian ubrug, menurutnya ubrug adalah kesenian teater rakyat tradisional yang berasal dari Banten, Kesenian ini memadukan unsur komedi, tari, musik, dan sastra (lakon) dalam pementasannya. Ubrug sering kali dipentaskan di lapangan atau halaman terbuka, dan dikenal dengan gaya lawakan yang khas serta penggunaan bahasa yang akrab dengan masyarakat.</p>
<p>&#8220;Selain sebagai hiburan, Ubrug juga berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai moral dan sosial kepada masyarakat,&#8221; ujar Asep</p>
<p>&#8220;Pertunjukan Ubrug melibatkan berbagai unsur, termasuk komedi, tari, musik (biasanya gamelan), dan lakon atau cerita yang dibawakan, sama halnya dengan lenong,&#8221; pungkas Asep.</p>
<p>Sementara itu, Agus Priyatna, atau biasa disapa Rik, menjelaskan seputar lenong menurutnya, lenong terbagi menjadi dua jenis utama, ada<br />
lenong denes yang menampilkan cerita tentang kehidupan kerajaan atau bangsawan dengan kostum yang mewah dan megah.<br />
Kemudian ada lenong preman, yang menampilkan cerita kehidupan sehari-hari, seringkali mengangkat tema seperti kisah cinta, keluarga, atau bahkan kriminalitas.</p>
<p>&#8220;Lenong adalah seni teater rakyat tradisional Betawi yang memadukan unsur drama, komedi, musik, dan tarian. Pertunjukan ini biasanya menggunakan bahasa Betawi dan diiringi musik gambang kromong,&#8221; jelas Agus.</p>
<p>Selain menghibur, lenong juga seringkali menyampaikan pesan moral kepada para penonton, seperti pentingnya tolong menolong dan menjauhi perbuatan buruk. (hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/festival-budaya-kampung-petukangan-2025-bikin-diskusi-dan-diseminasi-kebudayaan-lenong-betawi-dan-ubrug-banten/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>CLS Yogyakarta Gagas Diskusi Dilematis Demokrasi Substantif dan Anarkisme Taktis</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/cls-yogyakarta-gagas-diskusi-dilematis-demokrasi-substantif-dan-anarkisme-taktis/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/cls-yogyakarta-gagas-diskusi-dilematis-demokrasi-substantif-dan-anarkisme-taktis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2025 03:18:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[Anarkisme]]></category>
		<category><![CDATA[CLS Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=28622</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Yogyakarta &#8211; Diskusi publik bertema “Demokrasi Substantif dan Anarkisme Taktis: Dilema Etika dalam Aksi Mahasiswa” digelar pada&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Yogyakarta &#8211;</strong> Diskusi publik bertema “Demokrasi Substantif dan Anarkisme Taktis: Dilema Etika dalam Aksi Mahasiswa” digelar pada Selasa (03/06) di Soeltan Cafe and Eatery, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.</p>
<p>Kegiatan tersebut dibuat oleh Constitutional Law Study Yogyakarta (CLS) dan diikuti sekitar 40 peserta dari kalangan mahasiswa, aktivis, akademisi, serta perwakilan komunitas sipil di Yogyakarta.</p>
<p>Diskusi dipandu oleh moderator Elna Febi Astuti, S.H, yang dikenal sebagai aktivis perempuan dan pegiat HAM. Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur CLS, Muhammad Faisal, yang juga bertindak sebagai opening speaker.</p>
<p>Melalui keterangannya, Selasa (3/7), Faisal menyampaikan harapan, agar diskusi ini dapat menjadi ruang kompatibel dan reflektif bagi mahasiswa dalam memaknai demokrasi dan gerakan sosial.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-28625 size-full" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250604-WA0012.jpg" alt="" width="720" height="532" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250604-WA0012.jpg 720w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/06/IMG-20250604-WA0012-300x222.jpg 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></p>
<p>Direktur CLS Muhammad Faisal menyatakan, Kami berharap diskusi ini menjadi pemicu kesadaran baru di kalangan mahasiswa bahwa, kebebasan berekspresi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. &#8220;Polarisasi gerakan mahasiswa harus kembali diarahkan pada substansi perjuangan, bukan sekadar simbolik. Kami ingin ini menjadi gerakan yang terus tumbuh, bukan hanya selesai di meja diskusi,&#8221; tandasnya.</p>
<p>CLS juga menyampaikan bahwa, kegiatan ini dihadiri oleh berbagai organisasi kenegaraan, kemahasiswaan, dan komunitas aktivis di Yogyakarta, dengan narasumber yang memiliki latar belakang akademisi, praktisi hukum, serta aktivis lintas generasi.</p>
<p>Dengan gelaran ini, CLS menegaskan pentingnya merawat demokrasi yang tidak hanya prosedural, tetapi juga substantif—yang memberi ruang bagi rakyat, khususnya mahasiswa, untuk tetap kritis, bebas, namun bertanggung jawab dan beretika serta menjauhkan dari segala bentuk anarkhisme dalam menyuarakan perubahan.</p>
<p>Tiga narasumber utama mengisi jalannya diskusi, yaitu:</p>
<p>Yoyok Suryo, selaku aktivis era 90-an, menyampaikan semangat perjuangan mahasiswa saat masa Orde Baru, ketika kebebasan berpendapat dibungkam oleh otoritarianisme negara dan gerakan gerakan mahasiswa dahulu dibangun atas kesadaran bersama, dengan strategi yang matang dan etika perjuangan yang kuat.</p>
<p>Ia menilai, kondisi gerakan saat ini cenderung terfragmentasi dan kehilangan arah, sehingga perlu dikembalikan pada substansi perjuangan, bukan pada aksi-aksi destruktif yang merusak citra mahasiswa itu sendiri.</p>
<p>Sementara Handini, M.I.Kom, CDMP, (Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga), menyampaikan pentingnya adaptasi gerakan mahasiswa dalam konteks digital.</p>
<p>Menurutnya, media sosial menjadi medan baru perjuangan generasi Z, meskipun tantangan intimidasi masih hadir dalam bentuk yang lebih halus. Ia juga mengkritisi lemahnya ruang diskusi kritis di kampus hari ini dan pentingnya keterwakilan anak muda dalam politik.</p>
<p>Hanafi Saha, S.H ( HAM &amp; Associates) menyampaikan bahwa, ancaman terhadap demokrasi kini justru datang dari partai politik dan para elite yang tumbuh dari sistem demokrasi itu sendiri.</p>
<p>Menurutnya, mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sipil harus tetap menjadi kekuatan kritis. Namun ia mengingatkan, perjuangan mahasiswa tidak boleh larut dalam romantisme heroik atau tindakan instan yang merusak. Dimana Gerakan, perlu dibangun secara kolektif, dengan jejaring kuat dan ideologi yang jelas, bukan melalui aksi anarkis yang merugikan banyak pihak.</p>
<p>Selanjutnya, Hanafi mengajak mahasiswa agar menjaga marwah gerakan sebagai wadah aspirasi rakyat yang cerdas, terukur dan bermartabat. Dalam demokrasi, suara kritis dibutuhkan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang tetap menjunjung nilai hukum, etika, dan tanggung jawab sosial.</p>
<p>Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber oleh Muhammad Faisal. (*/Red)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/cls-yogyakarta-gagas-diskusi-dilematis-demokrasi-substantif-dan-anarkisme-taktis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gelar Bukber dan Diskusi, FJB Soroti Kontribusi Jurnalis Betawi Menyongsong Lima Abad Kota Jakarta</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/gelar-bukber-dan-diskusi-fjb-soroti-kontribusi-jurnalis-betawi-menyongsong-lima-abad-kota-jakarta/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/gelar-bukber-dan-diskusi-fjb-soroti-kontribusi-jurnalis-betawi-menyongsong-lima-abad-kota-jakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Mar 2025 13:39:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Buka Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[FJB]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Jurnalis Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalis Betawi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=25591</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan tema “Kontribusi Jurnalis&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar kegiatan diskusi sekaligus buka puasa bersama dengan tema “Kontribusi Jurnalis Betawi Menyongsong Lima Abad Kota Jakarta”.</p>
<p>Setidaknya muncul banyak gagasan baru agar jurnalis Betawi punya peran besar dalam diskusi berlangsung di Saung Kembangan, Jakarta Barat pada Minggu (23/3/2025).</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-25595 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0015-1024x768.jpg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0015-1024x768.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0015-300x225.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0015-768x576.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0015.jpg 900w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Dengan menampilkan tiga narasumber yakni H Beky Mardani, Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), kemudian H Yusron Sjarief, mantan news Anchor TV, dan Ahmad Buchori atau biasa disapa Bang Boy, jurnalis senior Antara.</p>
<p>Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB) M Syakur Usman menekankan pentingnya Jurnalis Betawi berkontribusi dan berperan aktif dengan usulan-usulan kegiatan untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta yang akan dirayakan pada 22 Juni 2027 nanti.</p>
<figure id="attachment_25600" aria-describedby="caption-attachment-25600" style="width: 576px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-25600 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250323-WA0032-576x1024.jpg" alt="" width="576" height="1024" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250323-WA0032-576x1024.jpg 576w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250323-WA0032-169x300.jpg 169w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250323-WA0032.jpg 720w" sizes="auto, (max-width: 576px) 100vw, 576px" /><figcaption id="caption-attachment-25600" class="wp-caption-text">Ketua Forum Jurnalis Betawi (FJB) M Syakur Usman saat berikan sambutan</figcaption></figure>
<p>FJB sendiri sudah melakukan inisiatif dengan mengembangkan laman berita online: Kabarbetawi.id. Laman ini akan banyak menyajikan konten-konten masyarajat Betawi sebagai masyarakat inti kota Jakarta.</p>
<p>Pada acara bukber ini. FJB juga menyampaikan beberapa program yang akan digelar untuk menyongsong 5 Abad Kota Jakarta, antara lain roadshow jurnalistik ke kampus-kampus, penerbitan buku 500 Cerita Tanah Betawi, workshop platform digital bersama kreator-kreator konten kebetawian, dan sebagainya.</p>
<p>Diskusi berjalan cukup hangat dan sangat menarik dipandu oleh moderator Faisal dari RRI. Beky Mardani misalnya, berharap agar jurnalis Betawi punya karya dalam bentuk buku yang bisa mengabadikan jasa para tokoh Betawi dari masa ke masa.</p>
<p>Selain itu, dia juga ingin ada karya lain yang selama ini menjadi memory kolektif orang tua agar dituangkan dalam tulisan. Seperti bagaimana kisah kampung di Betawi dahulu sebelum pembangunan sangat massif mewarnai Jakarta.</p>
<p>“Anak sekarang mana ngerasain bisa ngelihat Monas dari atas pohon kecapi. Nah, itu yang kita rasain dulu. Mari kita tulis, kita mulai dari kampung kita. Saya akan mulai dari kampung saya, Meruya,” ujar Beky yang juga Ketua PMI Jakarta Barat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-25597 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0006-1024x598.jpg" alt="" width="640" height="374" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0006-1024x598.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0006-300x175.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0006-768x449.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0006.jpg 900w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Yusron Sjarief menambahkan, banyak tradisi berkembang di Jakarta dan itu sangat terasa hingga kini bagi mereka yang masih tinggal di pemukiman nonperumahan.</p>
<p>“Saya kalau jadi juri Abnon (Abang-None) Jakarta peserta selalu saya tanya tinggal di perkampungan atau di kompleks perumahan. Mereka yang tinggal di kompleks perumahan biasanya tidak tahu ada tradisi apa yang masih ada di Betawi,” katanya.</p>
<p>Sedangkan Ahmad Buchori menyoroti peran Jurnalis Betawi di banyak media masa umum, bukan media khusus Betawi. Karena itu, dia menyambut positif hadirnya website kabarbetawi.id milik FJB dan berharap bisa menyuarkan aspirasi warga Betawi.</p>
<p>“Kayak kejadian di Bekasi ada permintaan THR (kepada perusahaan) mengatasnamakan Betawi. Itu perlu kita luruskan, agar stigma Betawi di masyarakat tidak menjadi negatif,” ucapnya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-25594 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0004-1024x768.jpg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0004-1024x768.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0004-300x225.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0004-768x576.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0004.jpg 900w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Diskusi semakin menarik menjelang Magrib. Namun, harus diakhiri karena sudah masuk waktu berbuka puasa, dengan doa dipimpin oleh Ustaz Taufik dari MUI Jakarta Barat.</p>
<p>Acara berlangsung meriah karena di akhir acara ada bagi-bagi buku, Bang Ipul Simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur. Ada juga doorprize tiket Ancol, dufan, dan Sea World.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-25593 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0003-1024x707.jpg" alt="" width="640" height="442" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0003-1024x707.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0003-300x207.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0003-768x530.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/03/IMG-20250324-WA0003.jpg 900w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Acara juga didukung oleh Gerakan Kebangkitan (Gerbang) Betawi, Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ) DKI Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Paljaya, PT Ancol Taman Impian, Permata MHT, Madrasah Aliyah Citra Cendekia, minuman isotonik dan yogurt Yoyic, Saung Kembangan, dan Bir Pletok Bang Isra. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/gelar-bukber-dan-diskusi-fjb-soroti-kontribusi-jurnalis-betawi-menyongsong-lima-abad-kota-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Diskusi Forum Senja: Kecerdasan Buatan Topik Paling Menarik</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/diskusi-forum-senja-kecerdasan-buatan-topik-paling-menarik/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/diskusi-forum-senja-kecerdasan-buatan-topik-paling-menarik/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 May 2024 03:51:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[M Nasir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=8432</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Tangerang &#8211; Era peradaban 4.0 yang ditandai dengan segala serba internet, menjadi tema menarik dalam diskusi Forum Senja,&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, </strong><b>Tangerang &#8211; </b>Era peradaban 4.0 yang ditandai dengan segala serba internet, menjadi tema menarik dalam diskusi Forum Senja, Kamis (10/5). Diskusi menjadi lebih hidup ketika pembicara memasuki topik kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).</p>
<p>Materi AI disampaikan oleh Yanto Soegiarto, wartawan senior yang pernah menjadi Redaktur Pelaksana majalah ekonomi berbahasa Inggris Globe Asia.</p>
<p>Diskusi mengambil tempat di Klaster Premier Park J1 Jalan Hartono Raya, Kota Tangerang, berlangsung sore hingga senja, dibuka oleh Direktur Eksekutif Forum Senja Dr M Harry Mulya Zein.</p>
<p>“Diskusi dirancang untuk mobile, berpindah-pindah tempat, seperti diskusi berbahasa Inggris yang pernah kita dilakukan beberapa tahun lalu,” tutur Harry.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-8434 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/05/IMG-20240510-WA0007-1024x768.jpg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/05/IMG-20240510-WA0007-1024x768.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/05/IMG-20240510-WA0007-300x225.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/05/IMG-20240510-WA0007-768x576.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/05/IMG-20240510-WA0007.jpg 1280w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Hadir dalam diskusi putaran pertama antara lain pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Sarwani, psikolog pendidikan Dr Bahagia Gantoe, pendidik Sudarno, dan wartawan senior Harian Kompas (1989- 2018) Mohammad Nasir.</p>
<p>“Saya ingin mendorong teman-teman untuk menyukai AI terlebih dulu. Kalau sudah senang dengan AI, kita akan senang, bermain dengan AI yang berguna sebagai pengetahuan maupun untuk membantu menyelesaikan pekerjaan,” kata Yanto mengawali menyampaikan materinya tentang AI.</p>
<p>Yanto yang berpengalaman sebagai praktisi media mulai platform cetak, digital, hingga televisi, menuturkan, kesibukannya sekarang bermain dengan AI.</p>
<p>“Menarik sekali AI bisa melayani semua platfom, bukan sekadar mesin pencari. Dari teks AI bisa mengubah menjadi gambar, bisa menjadi video atau produk semacam film. Itu tergantung permintaan kita,” tutur Yanto pernah menjadi Pemimpin Redaksi Stasiun Televisi RCTI.</p>
<p>Yanto kemudian memulai bagaimana memanfaatkan AI dengan menggunakan aplikasi google. Semua peserta diskusi diminta mencoba. Dengan penjelasan yang sederhana, peserta merasa terpandu menelusuri AI.</p>
<p>“Wah ini menarik. Penggunaan AI akan kita jadikan bahan diskusi sampai mewujudkan produk yang bisa dinikmati masyarakat,” tutur Harry Mulya Zein yang memberi komentar kesimpulan diskusi. Peserta pun diskusi sepakat. (*)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/diskusi-forum-senja-kecerdasan-buatan-topik-paling-menarik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dr HM Harry Mulya Zein Pimpin Diskusi Forum Senja</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/dr-hm-harry-mulya-zein-pimpin-diskusi-forum-senja/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/dr-hm-harry-mulya-zein-pimpin-diskusi-forum-senja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Mar 2024 13:07:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita Lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[Forum Senja]]></category>
		<category><![CDATA[Tangerang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=6148</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Tangerang &#8211; Diskusi terbuka yang membahas tentang manusia dan aneka rupa pengetahuannya, serta pengalamannya, serta tema-tema menarik&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Tangerang</strong> &#8211; Diskusi terbuka yang membahas tentang manusia dan aneka rupa pengetahuannya, serta pengalamannya, serta tema-tema menarik akan diselenggarakan secara berkala.</p>
<p>“Diskusi yang diberi nama Forum Senja ini terbuka untuk umum, tidak tersekat-sekat oleh politik, agama dan kelompok,” kata Direktur Eksekutif Forum Senja, Dr HM Harry Mulya Zein yang memimpin rapat persiapan diskusi periode April 2024.</p>
<p>Rapat yang berlangsung Rabu, 27 Maret 2024 menggunakan aplikasi zoom. Pertemuan online itu dihadiri pengurus Forum Senja.</p>
<p>Mereka antara lain Dr Harry Mulya Zein, sehri-hari sebagai dosen Institute Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri Jakarta, Dr Zarmansyah dosen London School of Public Relations (LSPR) Jakarta, Dr Bahagia Gantoe (psikolog), Karim Paputungan, Yanto Soegiarto, M. Nasir, dan Ayu Yulia Yang (keempatnya profesional di bidang pers), Sudarno (pendidik), dan Thomas Chandra (pensiunan Kementerian Perhubungan).</p>
<p>Diskusi Forum Senja ini adalah lanjutan dan perluasan dari diskusi dalam bahasa Inggris yang dijalankan secara mobile. Sejak satu dekade silam, diskusi yang membahas intisari buku itu terhenti karena kesibukan para anggotanya.</p>
<p>“Sekarang dikemas dalam bentuk baru, kekinian dengan memanfaatkan teknologi informasi terbaru berbasis internet,” kata Nasir yang menyampaikan program Forum Senja.</p>
<p>Dipilih nama Forum Senja, kata Nasir, karena nama itu sederhana, mudah diingat, dan memberi nuansa psikologis mendalam. Senja, adalah ujung waktu siang menjelang malam, yang strategis bagi kita untuk merefleksikan apa yang telah kita lakukan sepanjang hari, dan merencanakan kegiatan malam yang bebas untuk pribadi, lepas dari segala urusan pekerjaan dan kedinasan, beristirahat, dan tidur untuk kehidupan hari esok.</p>
<p>Kegiatan Forum Senja berorientasi pada pemuliaan manusia dan pengetahuannya dalam banyak hal, menempatkan pengalaman dan kiprah manusia di panggung utama sebagai contoh kebaikan.</p>
<p>Operasionalnya, Forum Senja menyelenggarakan diskusi yang diniatkan sebagai wadah sedekah pengetahuan/ilmu, memanggungkan pengalaman yang bermanfaat.</p>
<p>“Dalam forum ini selain bersilaturahmi, kami juga berbagi semangat dan penghormatan kepada sesama warga senior melalui kesempatan bicara/bercerita atau sharing yang kita dengarkan bersama,” kata Harry Mulya Zein.</p>
<figure id="attachment_6149" aria-describedby="caption-attachment-6149" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-6149 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/IMG-20240327-WA0060-1024x1012.jpg" alt="" width="640" height="633" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/IMG-20240327-WA0060-1024x1012.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/IMG-20240327-WA0060-300x297.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/IMG-20240327-WA0060-768x759.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/IMG-20240327-WA0060.jpg 1242w" sizes="auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-6149" class="wp-caption-text">Direktur Eksekutif Forum Senja, Dr HM Harry Mulya Zein</figcaption></figure>
<p>Harry memutuskan pertemuan diskusi berbasis internet, bisa online, hybrid, atau pertemuan langsung. “Tergantung situasi. Kesepakatannya diskusi dua minggu sekali tiap bulan. Tetapi kalau ada tema yang mendesak harus dibedah, ya bisa kita laksanakan kapan saja,” kata Harry.</p>
<p>Menariknya diskusi ini dilaksanakan tanpa harus menggunakan makalah atau powerpoint. Bebas.<br />
“Apa yang tersimpan dalam pikiran, disampaikan. Jadi tanpa powerpoint atau makalah. Tapi yang sudah menyiapkan presentasi powerpoint atau makalah juga dipersilakan,” kata Nasir.</p>
<p>Siapa saja peserta diskusi? Diutamakan warga senior, termasuk pensiunan, politisi, atau pebisnis/pengusaha, dan agamawan.</p>
<p>Menurut Harry, diskusi akan membahas isu terkini, tentang kehidupan sehari-hari seperti bisnis, sosial, politik, dan budaya. Baik dalam praktik maupun teori.</p>
<p>“Juga soal religi dan humaniora. Semua diharapkan bermanfaat untuk kehidupan,” kata Harry yang mantan Sekretaris Daerah Kota Tangerang itu.</p>
<p><strong>Kegiatan Sosial</strong></p>
<p>Platform Forum Senja adalah non-profit. Selain menggelar diskusi, ada kegiatan sosial lain menyertainya yaitu memberi perhatian kepada kaum papa, orang sepuh yang sudah tidak punya akses ekonomi.</p>
<p>Karena itu tidak menutup kemungkinan kegiatan sosial ini didanai dengan bantuan sponsor dari berbagai pihak.</p>
<p>Dari serangkaian kegiatan Forum Senja, bisa dikemas menjadi buku-buku tematis dan sosok.<br />
Buku diterbitkan dengan cara dicetak dan elektronik (e-book).</p>
<p>Bahkan juga untuk ikut merasakan kehidupan modern, Forum Senja akan menyediakan forum-forum kecil dengan format semacam podcast. Narasumber diskusi yang materinya dinilai sangat menarik, akan diminta untuk wawancara khusus dengan format podcast. (*/Dy)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/dr-hm-harry-mulya-zein-pimpin-diskusi-forum-senja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
