<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Diskusi Publik &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaanalisindonesia.com/read/tag/diskusi-publik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<description>Fakta &#38; Aktual</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Aug 2024 07:24:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/favico-1-150x150.png</url>
	<title>Diskusi Publik &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Diskusi Publik Pulihkan Jakarta, Walhi Kolaborasi dengan Beberapa Tokoh Masyarakat di Rawa Belong</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/diskusi-publik-pulihkan-jakarta-walhi-kolaborasi-dengan-beberapa-tokoh-masyarakat-di-rawa-belong/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/diskusi-publik-pulihkan-jakarta-walhi-kolaborasi-dengan-beberapa-tokoh-masyarakat-di-rawa-belong/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Aug 2024 07:24:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Pelestarian Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Rawa Belong]]></category>
		<category><![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Walhi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=15050</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta -Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) berkolaborasi dengan beberapa tokoh masyarakat di Rawa Belong, Jakarta Barat, menyelenggarakan diskusi&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> -Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) berkolaborasi dengan beberapa tokoh masyarakat di Rawa Belong, Jakarta Barat, menyelenggarakan diskusi publik Pulihkan Jakarta, yang bertajuk &#8220;Orang Betawi Rawa Belong Dalam Pelestarian Budaya Dan Lingkungan Hidup,&#8221; pada Sabtu sore (24/8/2024), berlokasi di Teras Roesdiah, Rawa Belong, Jl Kemandoran VI, Jakarta Barat.</p>
<p>Diskusi publik diikuti oleh beberapa tokoh masyarakat setempat diantaranya, H Supandi, pembina PS Cingkrik S3, H Bachtiar, pemilik Sanggar Si Pitung, Babe Manaf, Guru PS Cingkrik S3, dan Bang Rizal, pegiat seni budaya Betawi.</p>
<p>Dari Walhi hadir, Zenzi Suhadi, Direktur eksekutif Walhi Nasional, kemudian Bang Roni Adi, dari Betawi Kita,Tanah Abang, beserta sahabatnya, Isfandiari Mahbub Djunaidi, yang juga salah satu Waketum PB NU, serta pendekar Ciliwung, Jakarta Timur.</p>
<p>H Supandi berkisah soal sejarah Rawa Belong tempo dulu yang terkenal selain seni beladiri silatnya, juga terkenal sebagai sentral tanaman hias, terutama anggrek.<br />
&#8220;Dulu disini banyak petani anggrek, termasuk orang tua saya salah satunya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi petani anggrek di Rawa Belong ini, karena ngga ada lagi lahannya,&#8221; jelas H Supandi.</p>
<p>&#8220;Dulu juga tumbuhan pohon disini bisa sebagai tanda, misalnya ketika ada yang bertanya rumahnya si A dimana ya ? oh, itu yang depannya ada pohon jambu, kalau sekarang ngga begitu lagi jawabannya, rumah si A oh, itu yang banyak kontrakannya,&#8221; kata H Supandi, sambil berseloroh dengan logat khas Betawinya.</p>
<figure id="attachment_15052" aria-describedby="caption-attachment-15052" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-15052 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0018-1024x1000.jpg" alt="" width="640" height="625" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0018-1024x1000.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0018-300x293.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0018-768x750.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0018.jpg 1080w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-15052" class="wp-caption-text">Penyerahan bibit pohon secara simbolis yang diterima oleh tokoh masyarakat Rawa Belong, Babe Manaf, didampingi Bang Rizal dan Bang Roni Adi juga ketua RT Babe Heri.</figcaption></figure>
<p>Itulah salah satu contoh beberapa yang hilang dari Rawa Belong sekarang ini, tapi untuk budaya silat Alhamdulillah masih bisa terjaga sampai sekarang ini, meskipun lahan yang kita pakai untuk berlatih sudah semakin sempit.<br />
&#8220;Beda dengan jaman dulu dimana para orang tua kita masih memiliki kebon yang luas, banyak pohon buah yang ditanam dipekarangannya, seperti pohon rambutan, mangga, jambu, bahkan tanaman yang bisa di jadikan obat, misalnya daun saga, daun sirih, daun segugu, yang sekarang ini sudah jarang kita temukan,&#8221; terang H Supandi lagi.</p>
<p>Senada dengannya, H Bachtiar pemilik Sanggar Si Pitung mengungkapkan, sekarang ini kita telah banyak kehilangan yang menjadi ciri khas dari pada Rawa Belong, diantaranya petani anggrek dan beberapa pohon besar, seperi duren, bacang, kecapi, yang menjadikan kampung kita adem dan sejuk.</p>
<p>&#8221; Semua itu bisa hilang karena tuntutan ekonomi dan zaman, karena sekarang ini lahan kebanyakan sudah dipakai untuk kegiatan bisnis diantaranya bangunan toko, kantor, kost-kostan bahkan kampus,&#8221; terang H Bachtiar.</p>
<p>Nah, ini bagaimana kedepannya, mungkin dengan cara mengembalikannya lagi sudah tidak bisa, tapi harapan saya sekarang adalah bagaimana ciri khas yang hilang tadi bisa dihidupkan lagi dalam satu wilayah kecil di Rawa Belong, sehingga generasi yang akan datang, anak dan cucu kita menjadi tahu kalau Rawa Belong itu penduduk aslinya sebagian besar dulu adalah petani anggrek, selain belajar silat pastinya.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-15051 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0019-1024x768.jpg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0019-1024x768.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0019-300x225.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0019-768x576.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0019-1536x1152.jpg 1536w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/08/IMG-20240828-WA0019.jpg 1600w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Diskusi semakin menarik,<br />
Hadirnya Walhi dalam diskusi sore ini memberikan sedikit angin segar, dengan melaksanakan penyerahan bibit pohon sebagai bagian dari upaya melestarikan lingkungan hidup di Jakarta, khususnya di Rawa Belong yang kaya akan sejarah dan keanekaragaman hayati.</p>
<p>Melalui gerakan ini Walhi berharap dapat mengembalikan keindahan alam dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan sekitar.</p>
<p>Sementara itu, salah satu pegiat seni dan budaya yang tergabung dalam komunitas &#8220;Betawi Kita&#8221; Tanah Abang, Roni Adi, mengatakan, Rawa Belong bukan hanya sekedar lokasi, tapi juga merupakan bagian penting dari identitas Betawi.</p>
<p>Dirinya berharap, dengan setiap bibit yang ditanam kita tidak hanya merestorasi ekosistem, tapi juga merayakan warisan budaya yang telah ada berabad-abad.</p>
<p>&#8220;Mari kita jaga dan lestarikan agar generasi mendatang dapat merasakan keindahan dan makna dari tempat ini,&#8221; pungkas Roni.</p>
<p>Direktur Walhi Nasional, Zenzi Suhadi, dalam sambutannya mengatakan, hampir 13 tahun saya di Jakarta, tapi saya tidak tahu siapa pemiliknya, Jakarta ini begitu liar pembangunannya, perilaku manusianya, jadi setiap orang yang datang ke Jakarta dia tidak tahu untuk menundukkan diri kepada adat istiadat siapa.</p>
<p>&#8220;Saya tersadar kepada siapa di Jakarta ini kita harus tunduk setelah air yang saya minum dari tanah selama ini, itu airnya siapa? ternyata airnya orang Jakarta yang di sebut sebagai orang Betawi, maka disitulah saya harus tunduk dan hormat terhadap orang Betawi selaku pemilik Jakarta, yang pada sore hari ini kita bertemu di Rawa Belong untuk berdiskusi bareng terkait lingkungan dan budaya,&#8221; ujar Zenzi.</p>
<p>Sadar atau tidak sadar kita harus tunduk hormat kepada orang Betawi, selaku pemilik Jakarta, mau sebesar apapun kita bangun gerakan di Jakarta, tapi tidak kita hubungkan dengan masyarakat Betawi, maka gerakan itu tidak akan tumbuh.<br />
Yang menjadi pedoman utama kita kalau mau membangun Jakarta adalah melibatkan masyarakat Betawi.</p>
<p>&#8221; Menurut saya kesalahan besar pemerintah Indonesia, dalam 79 tahun membangun Jakarta yang merupakan kiblat Indonesia adalah menyingkirkan masyarakat Betawi, maka dari itu Jakarta menjadi rusak,&#8221; pungkas Zenzi.</p>
<p>Sesi akhir pembicara oleh Bang Rizal, pegiat seni budaya Betawi, menurutnya, kampung saya Rawa Belong sudah sangat jauh berubah.<br />
&#8220;Hampir dua puluh tahun saya merantau ke Kalimantan, disana saya tugas sebagai PNS, ketika balik ke kampung halaman saya menyaksikan Rawa Belong sudah tidak seperti yang dulu lagi,&#8221; ucapnya.</p>
<p>Maka dengan adanya diskusi bersama Walhi disini, saya merasa bersyukur dan sangat berterimakasih sekali kepada semua yang telah hadir disini, semoga ada gerakan dan semangat kebersamaan yang kita bangun untuk memperbaiki lingkungan dan kebudayaan demi generasi yang akan datang. (hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/diskusi-publik-pulihkan-jakarta-walhi-kolaborasi-dengan-beberapa-tokoh-masyarakat-di-rawa-belong/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budayawan Yahya Andi Saputra jadi Pembicara Diskusi Publik &#8220;Selayang Pandang Pengarang dan Sastra Betawi&#8221;</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-yahya-andi-saputra-jadi-pembicara-diskusi-publik-selayang-pandang-pengarang-dan-sastra-betawi/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-yahya-andi-saputra-jadi-pembicara-diskusi-publik-selayang-pandang-pengarang-dan-sastra-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2024 14:38:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=10058</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Pekan dan Pameran Sastra 2024 di&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Pekan dan Pameran Sastra 2024 di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Menteng, Jakarta Pusat pada 3-16 Juni 2024.</p>
<p>Pameran ini dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Firmansyah pada Senin (3/6/2024).</p>
<p>Dalam sambutannya Firmansyah mengatakan, Pekan Sastra Jakarta bukan hanya sekedar perayaan kata-kata indah dan gagasan kreatif, melainkan juga cerminan dari semangat kebersamaan sebagai masyarakat Jakarta yang majemuk yang juga senantiasa menghargai dan memelihara warisan budaya yang berlimpah.</p>
<p>&#8220;Sastra adalah jendela kedalam jiwa sebuah kota dan melalui pekan sastra ini, kami berharap dapat memperluas wawasan dan memperdalam makna dari Jakarta,&#8221; ucap Firmansyah.</p>
<p>&#8220;Sastra menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara karena disinilah terlihat karya dari budayawan, seniman, sastrawan yang diwujudkan dalam suatu ungkapan yakni hasil karya-karya sastra yang tentunya ini merupakan bagian pembangunan suatu peradaban kita ke depan,&#8221; jelas Firmansyah.</p>
<p>Sementara itu, pada hari Kamis 6 Juni 2024 dihelat diskusi publik bertema “Selayang Pandang Pengarang dan Sastra Betawi” dengan pembicara budayawan Yahya Andi Saputra dan sejarawan JJ Rizal dengan moderator Mae Shafira.</p>
<p>Yahya Andi Saputra memaparkan, sastra Betawi muncul sejak abad ke-19 dengan pantun dan syair dalam lagu gambang keromong, jampi, dan mantra.</p>
<p>“Kemudian berkembang menjadi tradisi bercerita seperti sohibul hikayat, buleng, dan gambang rancak,” ujar Yahya Andi Saputra.</p>
<p>Dirinya menambahkan, mantra atau jampi berupa teks lisan yang memadukan berbagai bahasa dengan pilihan kata kini bisa digunakan seorang untuk memulai sebuah acara guna mencairkan suasana seperti halnya pantun.</p>
<p>Pria yang tergabung di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) itu menekankan, penggunaan mantra dan jampi dapat digunakan asalkan tidak difungsikan sebagaimana dahulu kala yang identik dengan praktik mengusir roh jahat atau ritual perdukunan.</p>
<p>“Saya juga sering kalau diundang (acara) di mana-mana mengawali dengan membaca mantra (jampi), maksudnya bukan untuk sebagaimana dipakai oleh dukun,” kata Yahya</p>
<p>Menurutnya, seperti halnya pantun, mantra atau jampi yang disampaikan saat seseorang akan memulai acara bisa membantu untuk mencairkan suasana sehingga dia lebih percaya diri saat harus bertutur di depan khalayak.</p>
<p>“Salah satu fungsi pantun itu mencairkan suasana, menjadikan gurih di cita rasa. Begitu juga dengan jampi bisa digunakan, tapi bukan difungsikan sebagaimana dahulu,” jelasnya.</p>
<p>Dia yang memulai diskusi dengan melafalkan jampi yang dulunya difungsikan sebagai penolak setan itu selama sekitar satu menit mengatakan jampi merupakan salah satu sastra lisan.</p>
<p>“Jampi itu dituturkan oleh tukangnya kalau dia mau difungsikan. Misal saya mau memikat (pelet) A, datang ke rumah B yang kemudian menyampaikan sejumlah persyaratan,” pungkasnya.(*/hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-yahya-andi-saputra-jadi-pembicara-diskusi-publik-selayang-pandang-pengarang-dan-sastra-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
