<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Budayawan Betawi &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<atom:link href="https://mediaanalisindonesia.com/read/tag/budayawan-betawi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<description>Fakta &#38; Aktual</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 Jul 2025 15:44:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.1</generator>

<image>
	<url>https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/03/favico-1-150x150.png</url>
	<title>Budayawan Betawi &#8211; Media Analis Indonesia</title>
	<link>https://mediaanalisindonesia.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>17 Desember Ditetapkan Sebagai Hari Pantun Nasional, Ini Harapan Budayawan Betawi</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/17-desember-ditetapkan-sebagai-hari-pantun-nasional-ini-harapan-budayawan-betawi/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/17-desember-ditetapkan-sebagai-hari-pantun-nasional-ini-harapan-budayawan-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2025 15:22:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[DPP Permata MHT]]></category>
		<category><![CDATA[Hari pantun nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pantun Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Pelestarian Budaya Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=30189</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta — Pemerintah telah resmi menetapkan pada tanggal 17 Desember sebagai Hari Pantun Nasional melalui Keputusan Menteri&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta —</strong> Pemerintah telah resmi menetapkan pada tanggal 17 Desember sebagai Hari Pantun Nasional melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 163/M/2025. Penetapan tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, pada Senin (7/7/2025) di Jakarta.</p>
<p>Menanggapi hal ini Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menyambut baik akan kebijakan pemerintah tersebut. Ditemui usai menjadi narasumber dalam sebuah acara pelatihan seni pantun yang diselenggarakan oleh DPP Permata MHT, disebuah Hotel kawasan Mangga Dua, Jakarta Pusat, pada Jumat (11/7/2025)</p>
<p>Yahya Andi Saputra mengatakan, bahwa penetapan Hari Pantun Nasional menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian salah satu kekayaan sastra lisan bangsa. Pantun yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat kini diharapkan semakin kokoh sebagai identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.</p>
<p>“Ya, 17 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Pantun Nasional. Ini merupakan ketetapan resmi melalui Keputusan Menteri Kebudayaan,” ucap Yahya.</p>
<p>Ia menjelaskan, keputusan ini bukan sekadar formalitas, tetapi wujud penghargaan mendalam terhadap pantun yang telah diakui dunia. Pantun berhasil diinskripsi ke dalam daftar Representatif Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Kemanusiaan UNESCO pada 17 Desember 2020 di Paris, Prancis. Pengakuan tersebut diberikan melalui sidang daring yang diselenggarakan dengan tuan rumah negara Jamaika.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-30191 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/07/IMG-20250714-WA0116-1024x904.jpg" alt="" width="640" height="565" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/07/IMG-20250714-WA0116-1024x904.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/07/IMG-20250714-WA0116-300x265.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/07/IMG-20250714-WA0116-768x678.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/07/IMG-20250714-WA0116.jpg 900w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></p>
<p>Menurut Yahya, pantun memiliki nilai edukasi, sosial, dan budaya yang tinggi. Sebagai media komunikasi, pantun mengajarkan kesantunan, kebijaksanaan, dan kecintaan terhadap bahasa. Pantun juga berpotensi mendukung sektor kesenian hingga ekonomi kreatif.</p>
<p>“Hari Pantun Nasional menjadi momentum penting untuk menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi, memperkuat kearifan lokal, dan menghidupkan pantun di masyarakat. Dengan inovasi yang berkelanjutan, pantun dapat menjadi produk budaya unggulan daerah,” ujarnya.</p>
<p>Ia berharap, penetapan Hari Pantun Nasional dapat memicu lahirnya lebih banyak program pelestarian dan inovasi yang mengangkat pantun di tingkat nasional.</p>
<p>&#8220;Kegiatan pada hari ini yang di gagas oleh DPP Permata MHT sangat baik sekali, ini merupakan bagian dari pelestarian budaya, dan pada momen yang sangat tepat, harusnya lebih diperbanyak lagi kegiatan-kegiatan seperti ini,&#8221; ucap Yahya.</p>
<p>Dirinya menambahkan, tradisi berpantun bagi masyarakat Betawi sudah berlangsung sejak lama. Bagian dari kesusastraan Melayu ini terus bertahan dan berkembang lantaran dipelihara lewat media lisan alias penuturan maupun dalam bentuk tulisan atau buku-buku serta hikayat.</p>
<p>Namun, menurut Yahya, pelestarian pantun orang-orang Betawi perlu dihidupkan dan ditata kembali. Sehingga, gagasan atau isi yang hendak disampaikan penutur dapat tersampaikan.</p>
<p>“Ada beberapa catatan, bikin pantun itu bukan asal ngejeplak (mengucap). Mungkin pada bagian dari aksi palang pintu itu, akan ada koreksi dan penekanan utama, biasanya palang pintu dilaksanakan pada saat acara pernikahan yang sifatnya sakral, jadi harus tepat menggunakan kalimatnya,&#8221; tegas Yahya.</p>
<p>Menurut dia, pantun merupakan bentuk puisi khas Melayu yang terdiri dalam empat baris atau larik. Dua larik pertama dikatakan sampiran dan dua baris selanjutnya merupakan isi.</p>
<p>Beberapa catatan pembuatan pantun di antaranya, menghindari penyebutan nama-nama orang, baris pertama dan kedua harus berkaitan, serta sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. “Kamus-kamus bahasa Indonesia harus sering baca juga, kemudian Poebi (pedoman umum bahasa Indonesia) harus sering dilihat. Misalnya, hukum kata depan di yang dipisah dan di yang di-gancetin (digabung) juga harus tahu,” pungkasnya.</p>
<p>Sehingga ke depan, penulisan pantun Betawi harus lebih teliti dan berhati-hati dalam penyusunannya agar tidak menyalahi kaidah bahasa Indonesia yang baik dan Benar. Yahya juga berharap, para pemerhati pantun budaya di ibu kota sekitarnya bisa bersatu dan berkolaborasi untuk menyusun satu buku sebagai upaya untuk membumikan pantun Betawi.(hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/17-desember-ditetapkan-sebagai-hari-pantun-nasional-ini-harapan-budayawan-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pesona Kue Putu Mayang, Kuliner Khas Betawi yang Cocok Buat Hidangan Buka Puasa</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/pesona-kue-putu-mayang-kuliner-khas-betawi-yang-cocok-buat-hidangan-buka-puasa/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/pesona-kue-putu-mayang-kuliner-khas-betawi-yang-cocok-buat-hidangan-buka-puasa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Feb 2025 14:16:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Ramadan]]></category>
		<category><![CDATA[Khas Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Putu Mayang]]></category>
		<category><![CDATA[Takjil]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=24499</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Bulan Ramadan biasanya identik dengan penjual takjil yang mudah kita jumpai di pinggir jalan, berbagai&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211;</strong> Bulan Ramadan biasanya identik dengan penjual takjil yang mudah kita jumpai di pinggir jalan, berbagai aneka hidangan takjil khas Ramadan banyak dijajakan oleh para pedagang takjil musiman, salah satunya kue putu mayang.<br />
Kudapan yang satu ini merupakan salah satu kuliner tradisional khas Betawi, yang mempunyai bentuk seperti mie bergulung-gulung. Kue ini berbahan dasar dari tepung beras, putu mayang biasanya disajikan dengan siraman gula merah cair dicampur santan.</p>
<p>Warna asli dari kuliner ini adalah putih, akan tetapi biar terlihat semakin menarik, kini kue putu mayang sudah banyak memiliki corak warnanya.</p>
<p>Jika ditanya mengenai sejarah putu mayang, belum ada catatan pasti mengenai kapan kue ini muncul. Namun menurut budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, yang meyakini bahwa kue ini punya keterkaitan erat dengan cerita-cerita rakyat Betawi. Salah satunya cerita rakyat Jampang Mayangsari.</p>
<p>&#8220;Terkait dari sisi penamaannya, Mayang itu sesuatu yang bergelombang indah. Bentuk putu mayang yang bergelombang menyerupai mie inilah yang kemudian dikaitkan dengan sosok perempuan yang bernama Mayangsari tersebut,&#8221; jelas Yahya.</p>
<p>&#8220;Kue putu mayang telah berada dan identik dengan kebudayaan Betawi sejak lama sekali. Nenek saya waktu itu masih hidup, setiap kita mau buka puasa dia selalu usahakan bawa kue putu mayang. Kue ini memang sangat terkenal di Betawi. Tapi putu mayang yang ori ya, warnanya putih doang, kayak warna beras aja,&#8221; pungkas Yahya.</p>
<p>Hal lain menurut para orang tua dahulu khususnya warga Betawi, nilai yang terkandung dalam makanan tradisional putu mayang adalah nilai budaya penyambung silaturahmi yang sudah dilakukan secara turun-temurun.</p>
<p>Biasanya putu mayang ini oleh masyarakat Betawi di jadikan hantaran kepada sanak keluarga atau para tetangganya, rasanya yang manis menyimbolkan sebuah hubungan yang manis, warnanya yang warna warni menyimbolkan keceriaan, namun itu hanyalah sebuah perumpamaan saja, dan yang pasti semuanya untuk santapan berbuka puasa.</p>
<p>Karena biasanya masyarakat untuk santapan berbuka di awali dengan makanan ringan dahulu, hal ini bertujuan agar ibadah sholat tarawihnya tidak terganggu akibat kekenyangan. (hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/pesona-kue-putu-mayang-kuliner-khas-betawi-yang-cocok-buat-hidangan-buka-puasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Makna Kue Keranjang Khas Imlek Menurut Budayawan Betawi</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/ini-makna-kue-keranjang-khas-imlek-menurut-budayawan-betawi/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/ini-makna-kue-keranjang-khas-imlek-menurut-budayawan-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jan 2025 13:41:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Dodol Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Etnis Tionghoa]]></category>
		<category><![CDATA[Imlek]]></category>
		<category><![CDATA[Kue Keranjang]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=23188</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Salah satu kuliner yang tak pernah absen dalam perayaan etnis Tionghoa adalah kue keranjang. Siapa&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Salah satu kuliner yang tak pernah absen dalam perayaan etnis Tionghoa adalah kue keranjang. Siapa sangka bahwa kue keranjang ini menyimpan makna mendalam melekatkan dengan masyarakat Betawi.</p>
<p>Kue keranjang merupakan salah satu kuliner paling populer dalam perayaan Imlek. Selain disajikan sebagai kudapan, kue keranjang juga sebagai pelengkap upacara sembahyang etnis Tionghoa di meja abu.</p>
<p>Kue keranjang ini kerap disebut sebagai Nian Gao dan biasa sebagai makanan penutup yang populer saat Tahun Baru Imlek. Selain digunakan sebagai upacara sembahyang, sajian ini juga menjadi makanan Festival Musim Semi dan dipercaya membawa keberuntungan.</p>
<p>Sebagaimana yang dikatakan oleh pengamat Budaya Betawi, Yahya Andi Saputra, menjelaskan bahwa kue China sejak dahulu menyimbolkan keakraban orang Betawi dengan etnis Tionghoa. “Jadi memang sudah ada sejak dulu tradisi (mengantar kue China ke masyarakat Betawi). Kita, orang Betawi tidak pernah ada problem rasis dengan mereka,” jelas Yahya.</p>
<figure id="attachment_23189" aria-describedby="caption-attachment-23189" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-23189 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-1024x576.jpg" alt="" width="640" height="360" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-1024x576.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-300x169.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039-768x432.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2025/01/IMG-20250126-WA0039.jpg 900w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-23189" class="wp-caption-text">Pengamat Budaya Betawi, Yahya Andi Saputra</figcaption></figure>
<p>Kue keranjang sekilas mirip dengan dodol Betawi. Sehingga banyak orang mengira bahwa panganan ini merupakan produk akulturasi. Namun, Bang Yahya menyatakan bahwa baik dodol Betawi maupun kue keranjang berdiri masing-masing.</p>
<p>“Persamaannya hanya, mereka sama-sama menjadi hidangan perayaan agama masing-masing. Kue keranjang untuk Imlek, dan dodol Betawi untuk Lebaran,” jelasnya.</p>
<p>Dengan berbahan dasar tepung ketan, terigu, garam dan gula, kue ini memiliki cita rasa yang manis dan lengket. Di balik lengketnya itulah kue keranjang juga diharapkan mampu melekatkan hubungan Betawi dan etnis Tionghoa. “Dulu kue China ini bentuknya bundar, belum ada tulisan Chinanya seperti itu,” ujar Yahya.</p>
<p>Hal ini juga disepakati oleh salah satu penjual kue keranjang di kawasan Petak Sembilan, yaitu Alim. Ia menyatakan bentuk kue keranjang zaman dahulu sangat sederhana —berbentuk bundar dan dibungkus daun. Berbeda dengan sekarang yang sudah modern dengan berbagai sajian.</p>
<p>“Memang cetakannya pakai keranjang, maka disebut kue keranjang. Kalau dulu hanya bundar dibungkus daun. Tapi sekarang banyak variannya ada yang diwadahi plastik dan dibungkus macam-macam,” ungkapnya.</p>
<p>Saat ini ada beberapa daerah yang sangat terkenal dengan pembuatan kue keranjangnya antara lain, dari Tangerang, Medan, Surabaya, hingga Tegal. (*/hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/ini-makna-kue-keranjang-khas-imlek-menurut-budayawan-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dispusip DKI Apresiasi Buku Kumpulan Puisi &#8220;DOL&#8221; Karya Yahya Andi Saputra</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/dispusip-dki-apresiasi-buku-kumpulan-puisi-dol-karya-yahya-andi-saputra/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/dispusip-dki-apresiasi-buku-kumpulan-puisi-dol-karya-yahya-andi-saputra/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jul 2024 10:44:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastrawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=11566</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Firmansyah Wahid atau biasa disapa Bang Firman, selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Firmansyah Wahid atau biasa disapa Bang Firman, selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta, sangat mengapresiasi buku Kumpulan Puisi &#8220;DOL&#8221; karya budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra.</p>
<p>Hal ini Ia ungkapkan usai membuka acara bedah buku tersebut yang berlangsung di Aula Lantai 4 PDS HB Jassin Taman Ismail Marzuki<br />
Jalan Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat, Pada Jumat (5/7/2024) sore.</p>
<p>Firmansyah mengatakan, buku tersebut turut memperkaya khazanah sastra yang sangat berguna sebagai bagian dari literasi bagi masyarakat.</p>
<p>&#8220;Bang Yahya ini tokoh dan sastrawan Betawi yang juga memberikan kontribusi dalam dunia pendidikan dengan profesinya sebagai dosen di perguruan tinggi,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dirinya menambahkan, bedah buku ini merupakan salah satu bentuk apresiasi agar Yahya Andi Saputra bisa terus memproduksi dan melakukan proses serta ide kreatif, khususnya terkait dengan sastra Betawi.</p>
<p>&#8220;Saya ingin kultur budaya Betawi ini bisa tetap langgeng, tertulis dan bahkan dapat dinikmati dan menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas,&#8221; terangnya.</p>
<p>Ia berharap, semakin banyak generasi muda Betawi yang bisa mengikuti jejak Yahya Andi Saputra. Untuk itu, diperlukan satu rutinitas atau pembudayaan interaksi dengan budayawan atau pelaku sastra.</p>
<p>&#8220;Harapan kami ke depan, khususnya generasi muda Betawi bisa masuk dalam kultur atau komunitas yang menjadi bagian proses kreatif sastra ini,&#8221; katanya.</p>
<figure id="attachment_11568" aria-describedby="caption-attachment-11568" style="width: 640px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-11568 size-large" src="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/07/IMG-20240706-WA0040-1024x768.jpg" alt="" width="640" height="480" srcset="https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/07/IMG-20240706-WA0040-1024x768.jpg 1024w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/07/IMG-20240706-WA0040-300x225.jpg 300w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/07/IMG-20240706-WA0040-768x576.jpg 768w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/07/IMG-20240706-WA0040-1536x1152.jpg 1536w, https://mediaanalisindonesia.com/images/2024/07/IMG-20240706-WA0040.jpg 1600w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-11568" class="wp-caption-text">Peluncuran buku Kumpulan Puisi &#8220;DOL&#8221; karya budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra.</figcaption></figure>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sementara itu, Budayawan dan Sastrawan Betawi, Yahya Andi Saputra menuturkan, dol secara harfiah memiliki makna sudah rusak atau di luar kelaziman.</p>
<p>&#8220;Buku kumpulan puisi karya saya ini berisi tentang keresahan atas berbagai aspek kehidupan yang sudah tidak berjalan sebagaimana seharusnya,&#8221; terang Yahya.</p>
<p>Ia menambahkan, buku menjadi ruang terbuka sebagai tempat atau kawan berdiskusi. Artinya, dalam hidup ini kita tidak boleh berhenti peduli terhadap keadaan di sekitar.</p>
<p>&#8220;Buku ini juga menjadi ruang ketiga, buku ini sebagai literasi sangat penting. Sehingga, buku itu bisa dijadikan kawan berdiskusi dan berdialektika untuk masa depan yang lebih cemerlang,&#8221; jelas Yahya.</p>
<p>Proses kreatif dalam buku Kumpulan Puisi &#8220;Dol&#8221; merupakan kumpulan terhadap rasa dan kegelisahan yang kemudian diekspresikan dalam bentuk tulisan. Karya ini menjadi buku kelima untuk kumpulan puisi tinggal yang ditulisnya.</p>
<p>&#8220;Ada ide yang sejak tahun 2000-an. Tapi, ada juga yang memang sesuai kondisi terkini dan serta merta terlintas untuk bisa dituliskan,&#8221; pungkas.</p>
<p>Dirinya berharap banyak generasi muda, khususnya Betawi bisa berinteraksi atau berkumpul untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai dunia sastra dan budaya. Untuk itu, Ia sedang memperbanyak ruang pertemuan atau diskusi secara langsung agar lebih intens dan bernilai.</p>
<p>Turut hadir dalam acara ini antara lain, kritikus sastra Zen Hae, Dosen sastra Indonesia UNJ, Gres Grasia Azmin serta penulis dan pegiat literasi Betawi, Nicky Rosadi. (*/hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/dispusip-dki-apresiasi-buku-kumpulan-puisi-dol-karya-yahya-andi-saputra/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Budayawan Yahya Andi Saputra jadi Pembicara Diskusi Publik &#8220;Selayang Pandang Pengarang dan Sastra Betawi&#8221;</title>
		<link>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-yahya-andi-saputra-jadi-pembicara-diskusi-publik-selayang-pandang-pengarang-dan-sastra-betawi/</link>
					<comments>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-yahya-andi-saputra-jadi-pembicara-diskusi-publik-selayang-pandang-pengarang-dan-sastra-betawi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi 1]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Jun 2024 14:38:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Megapolitan]]></category>
		<category><![CDATA[Budayawan Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Diskusi Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Yahya Andi Saputra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mediaanalisindonesia.com/?p=10058</guid>

					<description><![CDATA[Media Analis Indonesia, Jakarta &#8211; Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Pekan dan Pameran Sastra 2024 di&#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Media Analis Indonesia, Jakarta</strong> &#8211; Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta mengadakan Pekan dan Pameran Sastra 2024 di Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Menteng, Jakarta Pusat pada 3-16 Juni 2024.</p>
<p>Pameran ini dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, Firmansyah pada Senin (3/6/2024).</p>
<p>Dalam sambutannya Firmansyah mengatakan, Pekan Sastra Jakarta bukan hanya sekedar perayaan kata-kata indah dan gagasan kreatif, melainkan juga cerminan dari semangat kebersamaan sebagai masyarakat Jakarta yang majemuk yang juga senantiasa menghargai dan memelihara warisan budaya yang berlimpah.</p>
<p>&#8220;Sastra adalah jendela kedalam jiwa sebuah kota dan melalui pekan sastra ini, kami berharap dapat memperluas wawasan dan memperdalam makna dari Jakarta,&#8221; ucap Firmansyah.</p>
<p>&#8220;Sastra menjadi bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara karena disinilah terlihat karya dari budayawan, seniman, sastrawan yang diwujudkan dalam suatu ungkapan yakni hasil karya-karya sastra yang tentunya ini merupakan bagian pembangunan suatu peradaban kita ke depan,&#8221; jelas Firmansyah.</p>
<p>Sementara itu, pada hari Kamis 6 Juni 2024 dihelat diskusi publik bertema “Selayang Pandang Pengarang dan Sastra Betawi” dengan pembicara budayawan Yahya Andi Saputra dan sejarawan JJ Rizal dengan moderator Mae Shafira.</p>
<p>Yahya Andi Saputra memaparkan, sastra Betawi muncul sejak abad ke-19 dengan pantun dan syair dalam lagu gambang keromong, jampi, dan mantra.</p>
<p>“Kemudian berkembang menjadi tradisi bercerita seperti sohibul hikayat, buleng, dan gambang rancak,” ujar Yahya Andi Saputra.</p>
<p>Dirinya menambahkan, mantra atau jampi berupa teks lisan yang memadukan berbagai bahasa dengan pilihan kata kini bisa digunakan seorang untuk memulai sebuah acara guna mencairkan suasana seperti halnya pantun.</p>
<p>Pria yang tergabung di Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) itu menekankan, penggunaan mantra dan jampi dapat digunakan asalkan tidak difungsikan sebagaimana dahulu kala yang identik dengan praktik mengusir roh jahat atau ritual perdukunan.</p>
<p>“Saya juga sering kalau diundang (acara) di mana-mana mengawali dengan membaca mantra (jampi), maksudnya bukan untuk sebagaimana dipakai oleh dukun,” kata Yahya</p>
<p>Menurutnya, seperti halnya pantun, mantra atau jampi yang disampaikan saat seseorang akan memulai acara bisa membantu untuk mencairkan suasana sehingga dia lebih percaya diri saat harus bertutur di depan khalayak.</p>
<p>“Salah satu fungsi pantun itu mencairkan suasana, menjadikan gurih di cita rasa. Begitu juga dengan jampi bisa digunakan, tapi bukan difungsikan sebagaimana dahulu,” jelasnya.</p>
<p>Dia yang memulai diskusi dengan melafalkan jampi yang dulunya difungsikan sebagai penolak setan itu selama sekitar satu menit mengatakan jampi merupakan salah satu sastra lisan.</p>
<p>“Jampi itu dituturkan oleh tukangnya kalau dia mau difungsikan. Misal saya mau memikat (pelet) A, datang ke rumah B yang kemudian menyampaikan sejumlah persyaratan,” pungkasnya.(*/hel)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mediaanalisindonesia.com/read/budayawan-yahya-andi-saputra-jadi-pembicara-diskusi-publik-selayang-pandang-pengarang-dan-sastra-betawi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
